“Lari!” teriak gadis kecil di sebelahku. Tanpa pikir panjang aku pun berlari mengikutinya. Kami bertiga berlari sekuat tenaga ntah dari apa, melewati sebuah lorong dengan banyak pintu.
“Belok sini… Kirana!” Gadis itu masih memimpin dan dia kini berlari menuju sebuah jendela kayu usang. Aku mengenal jendela ini dengan sangat baik. Aku menahan tangannya yang hendak membuka jendela dan berkata padanya “Tunggu sini, aku akan masuk duluan. Kalau aku segera menutup jendela ini, larilah. Tinggalkan aku dan cari jendela lain. Paham?” Gadis kecil itu mengangguk ragu. Tak menunggu lama aku perlahan membuka jendela dan mengintip. Kulihat sebuah meja panjang dengan banyak berkas. Tanpa suara, akupun membuka lebih lebar lagi dan mulai menyusup masuk. Ketika aku menoleh ke kiri… kulihat lima bayang suster sedang berlari menujuku. Salah satunya berteriak memanggil namaku “KIRANA!”
‘Sial’ bisikku dalam batin. Segera saja kulewati ambang jendela, berbalik dan berkata pada kedua gadis di belakangku “Pergi!” tanpa pikir panjang, jendela kututup dan kukunci.
Dua suster memegang tanganku, satu di kiri, satu di kanan. Mereka mendudukkanku dan melempar berkasku. Aku lihat berkas berisi biodata lengkap dan tulisan bagaimana aku sampai di panti asuhan ini. Sekilas-kilas kulihat tulisan tangan ‘tanpa ayah’, ‘Ibu tidak dikenali’ dan kulihat juga fotoku saat berusia 3 tahun. Aku duduk terpaku, tidak bergerak. Salah satu suster menceramahiku sambil terisak “kamu butuh diberi perhatian dan disayang…”
Ti…tit..tit… suara bising memecah ceramah suster…
tit…tit tit….tit…tit tit….tit…tit tit…. bunyinya semakin kencang dan suara suster kian menghilang
tit…tit tit….ponselku berteriak mengembalikan kesadaranku, aku pun terbangun membuka kedua mataku.
Oh, mimpi!
Kirana mencari-cari ponselnya di balik selimut dan mengangkat telpon:
“Beib…. pagi sayaaaang! Ayo bangun yuk…”
Ah, suara kesayangan Kirana langsung menyambut dan memeluk dirinya, memberi nyaman yang gelagapan dicarinya sepanjang malam. Kirana tersenyum mendengarnya.
“Beib… ” serak suara Kirana membalasnya.
“Kirana, sayangku, cintaku… ” Sekali lagi Dewa memanggil namanya dan sekali lagi Kirana merasakan selembut-lembutnya angin menyentuh hatinya. Desir halus suara Dewa dengan mudahnya menerbitkan senyum di wajah Kirana dan seketika juga menyalakan cahaya di kedua matanya yang masih berat karena sisa-sia kantuk.
Ini hanya satu pagi yang biasa sejak mereka berdua mulai menjalin kisah bersama. Entah sejak kapan kebiasaan ini mulai ada, Kirana sudah lupa… Sejak kapanpun itu…Dewa tidak pernah sekalipun absen membangunkannya setiap jam 6 pagi. Sekarang, Kirana tidak lagi ingat rasanya bangun pagi tanpa mendengar suara Dewa dan rasanya tidak mau tahu lagi juga. Kirana sudah terlalu menyukai kebiasaan pagi mereka ini dan tidak mau kehilangan. Ya, Kirana tidak mau tahu lagi rasanya bangun tanpa mendengar suara Dewa.
Setelah bercakap-cakap sebentar, Dewa dan Kirana pun menutup telpon pagi mereka.
“I love you… beib…” Demikian Dewa selalu mengakhiri percakapan mereka. Bukan dengan kata bye… tapi beib, dan tepat seperti itulah yang diinginkan Kirana. Kirana alergi dengan perpisahan. Perpisahan macam apapun, bahkan sekecil bertukar kata “bye” mengganggunya. Apalagi jika perpisahan itu menyangkut Dewa, kekasihnya.
Kirana bangun dan duduk di tepi tempat tidurnya. Senyum masih tertata rapih di wajah saat dia melihat pantulan dirinya di cermin. Kirana seketika teringat mimpinya… dia pun merenung. Mimpi itu lagi ya. Mimpi berlari, mimpi dikejar-kejar, mimpi mencari-cari jalan…mimpi demikian memang bukan suatu hal baru bagi Kirana. Mimpi semacam ini sering menghinggapi bunga tidurnya. Membuatnya bangun dengan rasa lelah dan kosong.
Ya, Kirana lelah mencari, lelah melarikan diri dan lelah merasa dikejar-kejar ketakutannya.
Kirana menarik nafas panjang dan sekali lagi melihat pantulan dirinya di cermin. Kirana merapihkan rambutnya yang berantakkan, mengusap poninya ke belakang telinga. Dan dilihatnya anting-anting mahkota masih bergantung di kedua telinganya. Pemberian Dewa kekasihnya. Sekali lagi senyum terbit di wajah Kirana.
Dewa tidak hanya memberikan anting-anting yang membuat Kirana terlihat cantik saat memakainya. Dewa juga memberikan suara-suara yang kerap dirindukan jauh di dalam alam bawah sadarnya. Suara dan kalimat yang tidak pernah didengar dari kedua orang tuanya. Ya, di kehidupan nyata, Kirana bukan yatim piatu dan tidak tinggal di panti asuhan.
Pelarian dan pencariannya di mimpi adalah senyata-nyatanya keinginan terdalam Kirana di hidupnya. Ya, Kirana lelah mencari, lelah melarikan diri dan lelah merasa dikejar-kejar ketakutannya.
Suatu hari Kirana pun berhenti mencari, dia berhenti melarikan diri dan menghadapi ketakutan-ketakutannya… Kirana menerima bahwa dirinya memang butuh disayang dan diperhatikan.
Suatu hari Dewa menyatakan cintanya dan Kirana pun menerima.
Berharap pelarian dan pencariannya sudah berakhir.
Berharap tak lagi ada perpisahan.
Karena Kirana akhirnya menemukan rumah dan Kirana bahagia bisa biasa mendengar suara-suara yang selama ini dirindukannya. Dewa, sudah menjadi satu-satunya rumah, yang selama ini dicari Kirana.

Dear Beiboo,
Kita sungguh membenci jarak yang terbentang memisahkan kita secara fisik. Tetapi ketahuilah walau saat ini yang bisa kulakukan hanya menangkap kehadiranmu dengan kedua mata dan telingaku, kamu sudah… sedang… dan akan selalu menjadi rumah bagiku. Saat ini biarlah kedua mata dan telingaku yang manja mendapatkan asupan dirimu. Begini saja aku sudah cukup bahagia apalagi nanti… saat tiba waktunya seluruh diriku bisa menangkap seluruh dirimu… Menunaikan rindu yang telah lama tertunggak dan berbunga berkali-kali lipat.
Happy Valentine, beibo! My lovely home. I love you.