Arsip Tag: renungan

Dipeluk dari Awal hingga Akhir

Ketiga patung Bunda Maria ini adalah hadiah. Masing-masing datang dari orang-orang terdekat yang saya hormati dan kagumi. Beda bahan, beda warna, beda ukuran— tapi semuanya punya satu kesamaan: Bunda Maria sedang memeluk Kanak-kanak Yesus.

Di Katolik, kita mengenal banyak jenis patung Bunda Maria. Tapi entah mengapa, ketiga patung yang sampai ke tangan saya selalu menunjukkan Bunda yang memeluk.


Tanggal 2 November 2025, saya mengikuti misa peringatan arwah semua orang beriman di Gereja Kim Tae Gon bersama Mama. Petugas mengantar kami ke bangku dekat relief perhentian ke-13: Yesus diturunkan dari salib.

Di sana, Bunda Maria kembali memeluk-Nya. Tapi kali ini bukan Kanak-kanak Yesus yang mungil, melainkan tubuh dewasa penuh luka, dengan mahkota duri yang terlepas.

Rasanya pilu sekali.
Tiba-tiba, sebuah lirik lagu muncul di kepala:

“From the cradle to the grave, my love remains the same.
You will find me by your side, by your side.”

Saya menunduk. Air mata jatuh tanpa izin.
Karena saya tahu—ini bukan kebetulan.
Tidak ada yang kebetulan.


Bunda Maria yang memeluk tubuh Yesus yang penuh luka, adalah seorang ibu yang paling tahu rasa kehilangan terdalam ketika anak yang dicintainya direnggut ketidakadilan dan kematian. Melihat relief itu saja sudah membuat dada terasa sesak.

Rasa sedih karena kematian adalah sesuatu yang sulit dicerna dengan cepat. Semua datang begitu mendadak, sering kali tanpa sempat memberi waktu untuk bersiap.

Saya pernah merasakannya.
Kehilangan yang datang tiba-tiba— dan sedikit saja rasa itu sudah begitu menghantam. Saya pernah kehilangan seorang sahabat dan guru secara tiba-tiba, namanya Romo Ardi H. Hari itu, saya juga membawa namanya dalam doa.

Romo Ardi adalah salah satu orang yang membuat saya ingin dekat pada Bunda Maria. Suatu kali, Ia pernah membawa saya misa di Gereja Kemutiran, dan di sana dia menunjukkan kaca patri kisah hidup Maria. Bukan kebetulan pula, di saat itu sedang ada persiapan misa requim. Ketika itu Romo Ardi berkata: “Lihat, ika, kematian orang baik membawa banyak bunga”

Saya sudah tidak ingat persis kata-kata Romo Ardi waktu itu, tapi saya masih ingat maknanya: bahwa kematian seseorang yang baik tetap memancarkan keindahan, karena kebaikannya terus hidup di hati orang-orang yang mengenangnya.

Romo Ardi pun menghembuskan nafas terakhirnya di hadapan patung bunda yang memeluk kanak Yesus… maka saya tidak bisa lagi mengabaikan semua tanda ini.


Di misa peringatan arwah itu, saya merasa Romo Ardi seperti mengajarkan hal yang sama sekali lagi: Per Mariam ad Jesum.

Bunda Maria sendiri mengalami rasanya kehilangan dan duka mendalam karena kehilangan anak yang dicintaiNya. Dia yang pertama memeluk bayi Yesus yang menangis. Bunda Maria jugalah yang menyaksikan hembusan nafas terakhirNya dan memeluk tubuhNya yang penuh luka.

Di kayu salib, ketika Yesus berada di ambang kematian, Ia menyerahkan Bunda-Nya kepada murid yang dikasihi-Nya: “Inilah ibumu.”

Sejak saat itu, pelukan Bunda Maria bukan hanya milik Yesus, tetapi juga milik kita semua. Pelukan yang menemani, menguatkan, dan mengajarkan bahwa kasih yang berasal dari Tuhan tidak pernah benar-benar pergi.

Ia hadir—diam, lembut, tetapi nyata.

Mungkin lewat setiap pelukannya,
Tuhan ingin bilang:
kasih sejati tidak berhenti di kematian.

Ia tetap memeluk,
dalam kenangan, dalam doa,
dalam hati yang masih mencintai—
dalam hati yang sudah penuh luka,
namun tetap bangkit menjalani hidup yang telah diberikan-Nya. 🤍

Dan melanjutkan perjuangan mereka yang telah meninggalkan kita dengan kasih dan harapan, bahwa suatu hari nanti kita akan bersatu dan dipertemukan kembali.


In loving memory of Romo Ardi, whose kindness still blooms in the memories of those he touched.