Sebaya Urip, Sebaya Pati

Tanganku pernah membunuhnya.
Dia mati dan bangkit.
Dia bilang… “inilah Cintaku padamu”
Tak akan mati, meski kau tidak menginginkannya hidup.
Cintaku tidak bergantung pada keinginanmu.
Tetapi keinginanKu.

Tunggang langgang aku berlari
Aku yakin tidak menginginkan cintanya.
Tersesat aku berkelana
Aku masih yakin tidak menginginkan cintanya.
Hingga mati aku berlelah
meyakini ketidakinginanku.

pun demikian…
Ia ingin aku mengenal cintaNya
Ia ingin aku mencecap cintaNya
Ia ingin aku bahagia menginginkan cintaNya.

Katanya…
Percuma
kemanapun kau pergi
Tak bisa kau lari sembunyi dariku
Aku mencintaimu…
sehidup semati
Terimalah.

Tinggalkan Balasan