Arsip Kategori: Hampir Sastra

Usaha untuk berekspresi dalam kata-kata.

Kelana dan Rahasianya

Malam,
Secuil cerita ini hanya bisa kusuguhkan padamu.

Ini tentang dia.
Dia yang menyerahkan sepercik kebenaran.
Percik yang ingin kukecap hingga tuntas
sebelum berlalu dan meretas—

tak akan kubiarkan
ia tersisa
di sela pikiranku yang tak kunjung reda.

Dia menyajikannya
dalam sepiring manisan dan secangkir embun.
Kenyang pula aku dibuatnya.
Seperti candu.

Tak apa,
Dunianya berbeda rona dengan duniaku.
Aku sudah berusaha menakarnya
dan dia tetaplah kelakar
yang tersembunyi dalam rahasia…
sengaja menjelma doa.

Maka kubiarkan dia apa adanya,
dan kurelakan kata-kata ini terbakar di altar-Nya
berkelana menuju surga
hingga senyum kembali merekah
seakan tak pernah dihapus.


Setengah tulisan ini kutulis 15 tahun yang lalu, aku menyimpannya lalu lupa.

Iya, aku bahkan sudah lupa untuk siapa dan kenapa aku menuliskan ini… maka malam ini kuselesaikan saja. Aku masih mengenali rasanya… mungkin bukan sosoknya,  tapi pola yang kerap kutemukan dalam diriku.

Mungkin memang begitu cara rahasia bekerja: datang untuk mengisi, pergi untuk membentuk ruang baru.

Malam ini, aku membuka ruang itu. Sengaja, agar doa yang dulu tertahan, akhirnya bisa berjalan….Rasanya? Menyenangkan sekali, sudah lama aku tidak menulis seperti ini.
Akhirnya tanganku kembali menari dan pikiranku ke sana ke mari mencari kata di setiap sudutnya… ah! ruang ini terasa sama sekaligus beda…

Semoga tulisan ini menemukan pembacanya.

 

Antara Tugu dan Bara

Kikan tiba di Stasiun Tugu, masih empat puluh dua menit lagi sebelum keretanya berangkat. Ia sedang berkeliling mencari tempat duduk, ketika telepon genggamnya bergetar. Ada SMS masuk. Kikan duduk, meletakkan tas punggungnya diantara kaki dan memeriksa telepon genggamnya. Segaris senyum terlukis saat ia membaca nama yang tertera. Bara.

Banguuun!!! Keretanya dah mau berangkat tuh. ayo buruan!

Tanpa berpikir, jari-jari Kikan menari lincah diatas layar, membalas cepat pesan dari Bara.

Sudah sampai stasiun kaliii! Kamu tumben sudah bangun.

Selang beberapa saat, Bara memanggilnnya di Lain Messenger, membalas SMS Kikan.

Bara : Aku kan selalu bangun pagi, Kay.

Bara : Emangnya kamu. Pasti kamu berangkat ga pake mandi pagi kan?

Kikan Ganarsih : 🙂 Aku dah mandi kemarin malam sebelum tidur. buat apa mandi lagi?

Bara : Ya… ya… ya…. *tutuphidung

Kikan Ganarsih : :-P.

Kikan menghirup nafas dalam-dalam. Udara pagi lembut memenuhi dirinya. Yogyakarta. Kikan menatap sekelilingnya, tengadah dia memejamkan mata, hiruk pikuk bahasa jawa tertangkap halus di kedua telinganya. Haruskah aku pulang sekarang? Belum juga dia beranjak pergi dengan kereta paginya, rindu sudah diam-diam terlipat di sudut hati Kikan. Sekelumat bayangan Bara nampak di pelupuknya. Kikan tersenyum. Karena kamu, aku enggan pulang.

Bara : Kamu sudah sarapan, Kay?

Kikan Ganarsih : Belum. Kamu mau traktir yah?

Bara : Iya, sini aku traktir soto dekat rumahku. 😛

Kikan Ganarsih : Kirim dong! masa aku yang kesana? :p

Bara : Ya sudah. Temui aku sekarang di loket yah

Kikan tercenung membaca pesan terakhir Bara. Tangannya bergerak cepat menelpon Bara.

“Halo” jawab Bara.

“Kamu ga di stasiun” Kikan menyatakan cepat.

“Aku sudah di depan loket.” Klik. 

Kikan bergegas menuju loket. Jantungnya berdetak cepat, segaris senyum terus terkembang di wajahnya.

Bara. Matanya segera menemukan sosok yang begitu dikenalnya.

“kamu ngapain kesini?”

“nraktir kamu sarapan”

“Baraaa….. aku kan sudah bilang… aku ga suka perpisahan. You shouldn’t come”

“And miss that sweet smile of you? No, thank you. Kikan Ganarsih, aku kasih tahu yah, sarapan paling enak di dunia itu adalah senyummu.”

“Bara. Kamu…” Kikan mengacungkan jari telunjuk di depan muka Bara, matanya melotot, jari telunjuknya kemudian turun memaku-maku dada bara. “GOMBAL!”

“I know you love me too” Bara memeluk Kikan sambil tertawa.

***

Kikan tiba di Stasiun Tugu, masih tiga puluh menit lagi sebelum keretanya berangkat. Ia sedang berkeliling mencari tempat duduk, ketika telepon genggamnya bergetar. Ada SMS masuk. Kikan duduk, meletakkan tas punggungnya diantara kaki dan memeriksa telepon genggamnya. Tidak ada pesan baru. Rupanya getaran telpon genggamnya hanya perasaannya saja. Segaris senyum terbayang di wajahnya, tanpa sadar Kikan menggelengkan kepala. Menepis jauh-jauh. Bara.

Kikan menghirup nafas dalam-dalam. Udara pagi lembut memenuhi dirinya. Yogyakarta. Kikan menatap sekelilingnya, tengadah dia memejamkan mata, hiruk pikuk bahasa jawa tertangkap halus di kedua telinganya. Haruskah aku pulang sekarang? Belum juga dia beranjak pergi dengan kereta paginya, rindu sudah diam-diam menumpuk di sudut hati Kikan. Sekelumat bayangan Bara nampak di pelupuknya. Kikan tersedan. Karena kamu, aku enggan pulang.

Bara. Dipanggilnya nama itu berulang kali. Pelan-pelan bagai mantra. Setetes air mata meluncur perlahan di kedua pipinya.

Jogja tak berubah, Bara. Stasiun Tugu masih seperti dulu. Duniaku yang berubah. Duniaku tak lagi sama tanpamu.

Dan sekali lagi Kikan terpaku menyaksikan sekulumat-sekulumat kenangannya bersama Bara.

Bara, kamu tahu aku tidak pernah menyukai perpisahan… tidak pernah.

Kikan melipat kedua tangannya di depan dada. Memejamkan mata. Menarik nafas panjang. Segaris senyum berhasil dilukisnya di wajah. Pada bayangan Bara, Kikan tersenyum manis.

Selamat pagi, Bara.  Aku salah, rupanya selama ini aku bukan enggan pulang.  Kamulah rumahku. Kemanapun aku pergi tanpamu, aku enggan beranjak.  Jangan tinggalkan aku.

Semilir angin membelai wajah Kikan. Kikan bergetar, makin erat kedua tangannya saling memeluk.

Bara. Bara. Dipanggilnya nama itu berulang kali. Pelan-pelan.

Kereta Kikan datang, tanpa terburu, Kikan memakai tas punggungnya. Beranjak dan melanjutkan hidupnya.

***

If you miss the train I’m on, you will know that I am gone
You can hear the whistle blow a hundred miles,
A hundred miles, a hundred miles, a hundred miles, a hundred miles,
You can hear the whistle blow a hundred miles.

Lord I’m one, Lord I’m two, Lord I’m three, Lord I’m four,
Lord I’m 500 miles from my home.
Away from home, away from home, away from home, away from home
Lord I’m five hundred miles from my home.

Sebaya Urip, Sebaya Pati

Tanganku pernah membunuhnya.
Dia mati dan bangkit.
Dia bilang… “inilah Cintaku padamu”
Tak akan mati, meski kau tidak menginginkannya hidup.
Cintaku tidak bergantung pada keinginanmu.
Tetapi keinginanKu.

Tunggang langgang aku berlari
Aku yakin tidak menginginkan cintanya.
Tersesat aku berkelana
Aku masih yakin tidak menginginkan cintanya.
Hingga mati aku berlelah
meyakini ketidakinginanku.

pun demikian…
Ia ingin aku mengenal cintaNya
Ia ingin aku mencecap cintaNya
Ia ingin aku bahagia menginginkan cintaNya.

Katanya…
Percuma
kemanapun kau pergi
Tak bisa kau lari sembunyi dariku
Aku mencintaimu…
sehidup semati
Terimalah.