Arsip Kategori: Fiksi / Nada / Citra

Review dari buku/lagu/film yang menginspirasi

Terkunci

Aku bermimpi tentangmu semalam dan mimpi itu segera saja kujadikan alasan untuk menghubungimu lagi.

“Aku memimpikanmu” tulisku, tak peduli apakah kau akan membalasnya atau tidak. Aku hanya ingin kau tahu. “Apa yang kau impikan tentangku?” balasmu. Aku pun bercerita, tentang kita yang bercengkrama, tentang pertengkaran kita dan juga tentang kau yang pergi meninggalkanku begitu saja dengan motormu. “Menarik” balasmu. Rententan pertanyaan mengalir memenuhi layarku kemudian, kamu penasaran. Aku pun melanjutkan ceritaku, tentang aku yang diam-diam mengambil ponselmu, tentang aku yang kemudian marah, diam-diam mengunci kamarmu dan juga tentang pintu toilet yang tak bisa dikunci.  

Ya, mari kita bahas tentang pintu toilet itu. Aku kesal sekali. Pintu itu tak mau terkunci, meski sudah berkali-kali aku menguncinya. Saat akhirnya aku merasa berhasil menguncinya, seseorang datang dan membukanya. Semudah itu. Aku kesal sekali. Aku sedang melucuti pakaianku dan sudah hampir telanjang. Kuambil sebuah handuk untuk menutupi tubuhku. Sialan. Handuknya kecil. Aku gelagapan menahan malu dan dengan marah aku mengusirnya. “keluar kau!” teriakku. Kubanting pintu toilet dan segera saja aku mencari cara untuk menguncinya. Aku putar anak kuncinya berulang kali, sampai sakit tanganku. Tidak bisa.

Aku cari kayu dan aku palangkan di hadapan pintu itu. Tak lupa aku isi ember hingga penuh dan kuletakkan persis menempel rapat di kakinya. Sampai yakin sudah diriku bahwa pintunya sudah terkunci. Tak akan ada yang bisa masuk lagi. Aku melanjutkan mandiku. Baru saja aku mengambil sabun, kudengar suara reyot pintu terbuka. Aku kesal sekali, aku berteriak marah dan seketika terbangun.

Ah, ya. Aku sedang tertidur dan bermimpi. Mimpi tentang pintu toilet yang tak bisa dikunci.

Dulu saat aku menutup pintu hatiku rapat-rapat, kau datang, mengetuk, membuka dan tidak mengijinkanku menguncinya. Aku kesal sekali, berulang kali aku menutup dan berusaha menguncinya. Kau selalu bisa masuk dan membukanya. Berulang kali aku menghalangi dan mengusirmu dengan berbagai cara, sampai akhirnya aku lelah. Kubiarkan kau masuk ke kamar itu. Kamar tempatku membuang semua kotoran dan tempat yang selalu kudatangi sendiri. Ada kamu, aku tidak lagi sendiri. Ada kamu, aku tidak lagi mandiri. Sejak ada kamu, aku juga susah bersih. Kubiarkan kau ada. Melihatku telanjang. Terbuka.

Aku kesal sekali. Kau pergi dan pintu itu kini terkunci, sedang aku berada di luar.

Sial, kali ini aku tidak bisa terbangun.

Antara Tugu dan Bara

Kikan tiba di Stasiun Tugu, masih empat puluh dua menit lagi sebelum keretanya berangkat. Ia sedang berkeliling mencari tempat duduk, ketika telepon genggamnya bergetar. Ada SMS masuk. Kikan duduk, meletakkan tas punggungnya diantara kaki dan memeriksa telepon genggamnya. Segaris senyum terlukis saat ia membaca nama yang tertera. Bara.

Banguuun!!! Keretanya dah mau berangkat tuh. ayo buruan!

Tanpa berpikir, jari-jari Kikan menari lincah diatas layar, membalas cepat pesan dari Bara.

Sudah sampai stasiun kaliii! Kamu tumben sudah bangun.

Selang beberapa saat, Bara memanggilnnya di Lain Messenger, membalas SMS Kikan.

Bara : Aku kan selalu bangun pagi, Kay.

Bara : Emangnya kamu. Pasti kamu berangkat ga pake mandi pagi kan?

Kikan Ganarsih : 🙂 Aku dah mandi kemarin malam sebelum tidur. buat apa mandi lagi?

Bara : Ya… ya… ya…. *tutuphidung

Kikan Ganarsih : :-P.

Kikan menghirup nafas dalam-dalam. Udara pagi lembut memenuhi dirinya. Yogyakarta. Kikan menatap sekelilingnya, tengadah dia memejamkan mata, hiruk pikuk bahasa jawa tertangkap halus di kedua telinganya. Haruskah aku pulang sekarang? Belum juga dia beranjak pergi dengan kereta paginya, rindu sudah diam-diam terlipat di sudut hati Kikan. Sekelumat bayangan Bara nampak di pelupuknya. Kikan tersenyum. Karena kamu, aku enggan pulang.

Bara : Kamu sudah sarapan, Kay?

Kikan Ganarsih : Belum. Kamu mau traktir yah?

Bara : Iya, sini aku traktir soto dekat rumahku. 😛

Kikan Ganarsih : Kirim dong! masa aku yang kesana? :p

Bara : Ya sudah. Temui aku sekarang di loket yah

Kikan tercenung membaca pesan terakhir Bara. Tangannya bergerak cepat menelpon Bara.

“Halo” jawab Bara.

“Kamu ga di stasiun” Kikan menyatakan cepat.

“Aku sudah di depan loket.” Klik. 

Kikan bergegas menuju loket. Jantungnya berdetak cepat, segaris senyum terus terkembang di wajahnya.

Bara. Matanya segera menemukan sosok yang begitu dikenalnya.

“kamu ngapain kesini?”

“nraktir kamu sarapan”

“Baraaa….. aku kan sudah bilang… aku ga suka perpisahan. You shouldn’t come”

“And miss that sweet smile of you? No, thank you. Kikan Ganarsih, aku kasih tahu yah, sarapan paling enak di dunia itu adalah senyummu.”

“Bara. Kamu…” Kikan mengacungkan jari telunjuk di depan muka Bara, matanya melotot, jari telunjuknya kemudian turun memaku-maku dada bara. “GOMBAL!”

“I know you love me too” Bara memeluk Kikan sambil tertawa.

***

Kikan tiba di Stasiun Tugu, masih tiga puluh menit lagi sebelum keretanya berangkat. Ia sedang berkeliling mencari tempat duduk, ketika telepon genggamnya bergetar. Ada SMS masuk. Kikan duduk, meletakkan tas punggungnya diantara kaki dan memeriksa telepon genggamnya. Tidak ada pesan baru. Rupanya getaran telpon genggamnya hanya perasaannya saja. Segaris senyum terbayang di wajahnya, tanpa sadar Kikan menggelengkan kepala. Menepis jauh-jauh. Bara.

Kikan menghirup nafas dalam-dalam. Udara pagi lembut memenuhi dirinya. Yogyakarta. Kikan menatap sekelilingnya, tengadah dia memejamkan mata, hiruk pikuk bahasa jawa tertangkap halus di kedua telinganya. Haruskah aku pulang sekarang? Belum juga dia beranjak pergi dengan kereta paginya, rindu sudah diam-diam menumpuk di sudut hati Kikan. Sekelumat bayangan Bara nampak di pelupuknya. Kikan tersedan. Karena kamu, aku enggan pulang.

Bara. Dipanggilnya nama itu berulang kali. Pelan-pelan bagai mantra. Setetes air mata meluncur perlahan di kedua pipinya.

Jogja tak berubah, Bara. Stasiun Tugu masih seperti dulu. Duniaku yang berubah. Duniaku tak lagi sama tanpamu.

Dan sekali lagi Kikan terpaku menyaksikan sekulumat-sekulumat kenangannya bersama Bara.

Bara, kamu tahu aku tidak pernah menyukai perpisahan… tidak pernah.

Kikan melipat kedua tangannya di depan dada. Memejamkan mata. Menarik nafas panjang. Segaris senyum berhasil dilukisnya di wajah. Pada bayangan Bara, Kikan tersenyum manis.

Selamat pagi, Bara.  Aku salah, rupanya selama ini aku bukan enggan pulang.  Kamulah rumahku. Kemanapun aku pergi tanpamu, aku enggan beranjak.  Jangan tinggalkan aku.

Semilir angin membelai wajah Kikan. Kikan bergetar, makin erat kedua tangannya saling memeluk.

Bara. Bara. Dipanggilnya nama itu berulang kali. Pelan-pelan.

Kereta Kikan datang, tanpa terburu, Kikan memakai tas punggungnya. Beranjak dan melanjutkan hidupnya.

***

If you miss the train I’m on, you will know that I am gone
You can hear the whistle blow a hundred miles,
A hundred miles, a hundred miles, a hundred miles, a hundred miles,
You can hear the whistle blow a hundred miles.

Lord I’m one, Lord I’m two, Lord I’m three, Lord I’m four,
Lord I’m 500 miles from my home.
Away from home, away from home, away from home, away from home
Lord I’m five hundred miles from my home.

(;) Titik Koma (8)

Aku meletakkan pensilku dan mengambil telpon genggamku lagi, memijat sembarang tombol untuk menyalakan lampu layarnya. Nihil. Tidak ada apa-apa. Menghela nafas, aku singkirkan telpon genggamku. Mengambil pensil dan kembali mencoba menggambar. Aku tarik garis lengkung, tidak sempurna, hapus. Tarik garis, tidak sempurna, hapus. Demikian terus entah sampai berapa lama. Kertasku sudah kotor dan serpihan halus penghapus memenuhi mejaku.

Aku gelisah. Semua yang kulakukan tidak ada artinya, aku tidak bisa menghilangkan cemasku. Takutku.

Apa yang salah? *sigh. Aku menarik nafas dalam-dalam dan menyerah pada segala pikiran yang membuatku tidak nyaman ini.

kamu lagi apa, mas rangga? mengapa tidak juga memberi kabar?

Baiklah, aku tahu apa yang salah. Dalam kepalaku mendengung kembali suara Bagas

“Kamu koq sesempit itu seh pikirannya?”. 

“Kamu koq… sesempit itu… seh pikirannya?”

“ sesempit… itu… seh … pikirannya?”

Berulang kali, makin lama, makin lambat. Hatiku mendadak gelisah.

Baiklah mari mengurai ini semua, putusku dalam hati. Entah apa yang akan aku temui… aku sedikit ragu tapi aku tetap mengambil pensilku, membuka buku catatanku dan mulai menulis lambat-lambat.

Akhirnya suara itu datang juga. Kebenaran yang telah lama bersembunyi diam dan kuabaikan keadaannya. Telah lama kuketahui ada yang salah diantara kita. Apa yang tidak berani kubedah, apa yang tak mau kupertanyakan, apa yang tidak mau kuakhiri… pada akhirnya melontar dengan sendirinya. Tak terelakkan, tepat sasaran.

Dan bukankah telah lama kedua kutub itu mulur, menegosiasikan jarak yang menyatu dan merutin. Mungkin pada akhirnya tidak ada lagi yang bisa diulur. Mungkin sudah waktunya ketapel itu membuang jauh-jauh apa yang membuat kita berdua tegang. Kesana. Ke tempat yang sudah lama kita telusuri diam-diam. Ke lorong panjang dimana waktu hanya ada untuk aku dan kamu. Ke masa lalu yang tidak mau kita tinggalkan begitu saja. Dan biarlah ia bergulir hingga ia tiba di masa sekarang, saat ini, hari dimana aku meragukan diriku, meragukan kita dan menyalahkan kau yang tak kunjung datang meyakinkanku. Sedikit saja keberanian ini muncul, aku tahu, sudah tidak ada lagi kita. 

Di tanganku sekarang ini, aku dan kamu tidak menyatu. 

Buk! aku tutup seketika buku catatanku. Terkejut sendiri dengan apa yang baru saja aku tuliskan. Aku bereskan semua barang-barangku, sembarangan kumasukkan ke dalam tas. Yakin tak ada yang tertinggal, terburu-buru aku keluar dari perpustakaan. Lari sejauh-jauhnya dari kebenaran yang baru saja dinyatakan tangan kecilku. Lari dari apa yang belum berani aku hadapi.  Di luar hujan.

***

Mas Rangga adalah orang yang mengenalkan gunung padaku. Dia menarikku keluar dari dunia kota tempatku terbiasa tinggal.

Aku lahir di kota metropolitan bernama Jakarta, sudah dua puluh tahun lamanya tumbuh di belantara tembok dan gedung-gedung tinggi saat bertemu Mas Rangga. Mas Rangga lahir di desa kecil, di kaki gunung Merapi, dia tumbuh dimanja alam. Demikian kami sudah pasti berbeda. Tidak hanya sekedar berbeda kelamin, tetapi juga berbeda karakter. Perbedaan yang seperti kedua kutub magnet, namun ternyata menarik satu sama lain. Itulah kami.

Bagaimana kami bertemu? Takdir? Omong kosong. Bukan takdir yang mempertemukan kami. Tapi rokok.

Aku membenci asap rokok. Mas Rangga perokok. Aktif. Saat itu dia sedang duduk di kantin bersama temannya. Aku duduk di sebelahnya bersama teman karibku, Tya. Kantin sedang ramai-ramainya. Aku dan Tya terpaksa duduk di kursi itu karena memang sudah tidak ada tempat lagi. Di tengah diskusi serunya, Mas Rangga merokok. Aku tentu saja terganggu. Asap rokok menjajah udara segarku. Aku terbatuk-batuk. Sengaja.

“Tya… bagi minumnya yah” pintaku pada Tya.

Kode batuk-batukku menyadarkan Mas Rangga bahwa asap rokoknya menggangguku.

Dia menoleh dan berkata, “Maaf Mba” kemudian mematikan rokoknya yang tinggal setengah dan melanjutkan obrolannya kembali. Aku dan Tya pun asyik dengan pembicaraan kami sendiri. Tak lama aku dan Tya bersiap meninggalkan meja. Baru saja berdiri, Mas Rangga memegang tanganku dan menarikku duduk kembali. Aku terkejut dan langsung menoleh padanya.

“Bentar mba, saya mau kenalan.” katanya tanpa basa-basi.

Aku bengong dan hanya menatapnya. Orang gila. 

Tya yang langsung semangat menyambar “Namanya Lara, mas” Aku langsung melotot marah padanya. Tya malah senyum-senyum ga jelas.

“Lara ya. fakultas mana?”

“Desain grafis” Masih Tya yang menjawab.

“Lara. Desain Grafis. Saya Rangga.” Katanya lagi.

Aku masih diam dan hanya melepaskan tanganku darinya, yang rupanya masih dipegangnya. Tya malah sibuk berjabat tangan dengan teman-teman Mas Rangga yang  langsung mendadak ramah dan memanfaatkan momen.

“Tya, ayo pergi,  ga suka bau rokoknya neh” Kataku tegas  berdiri dan memanggil Tya. Lalu menarik tanganya, cepat meninggalkan kantin.

“Dagh semuanya” pamit Tya sambil cengengesan. Kami berjalan cepat dan sepuluh langkah kemudian aku dengar dia berteriak

“Lara, salam kenal yah!”

Norak banget sih, batinku. Senyum tipis menggaris berkhianat diwajahku.

“Cieee LARA!” Tya sumringah memelukku.

“iih… apaan sih!” Aku jengah dengan kejutan ini.

Sejak saat itu, Mas Rangga rajin makan siang di kantin itu, padahal dia tidak kuliah di Universitasku. Waktu itu dia memang hanya bertemu dengan teman karibnya semasa SMA yang kebetulan berkuliah di tempat yang sama denganku. Itu menurut pengakuannya.

Sejak saat itu, hidupku tidak pernah sama lagi. Hingga sekarang.

***

Mas Rangga dan awal pertemuan kami.

Bagas dan awal pertemuan kami.

Rasanya semua itu sudah lama sekali. Aku kembali dari nostalgiaku. Menarik nafas dan kembali ke masa ini. Menghadapi masa sekarang. Di depanku ada Bagas. Di luar ada hujan yang masih turun menemani. Dan disinilah aku tiba, di tanda titik yang kupikir  sudah menutup kisahku dan mas Rangga; sekaligus tanda koma yang mencukupkan kisahku dan Bagas.

Ketakutan. Kata itulah yang menutup kisahku dengan Mas Rangga dan yang sedang kucoba urai dengan Bagas. Dua minggu yang lalu Mas Rangga mengirimkan satu pesan singkat.

Aku butuh waktu sendiri.

Aku tidak membalasnya. Tidak tahu harus membalas apa. Dan enggan bertanya. Untuk apa?

“Dia hanya butuh waktu sendiri, bukan berarti kalian putus,” Bagas mengisi kekosongan setelah dia tahu pesan singkat apa yang dikirimkan Mas Rangga ; yang membuatku berpikir bahwa hubunganku dan Mas Rangga sudah berakhir.

“Well… sudah terlalu lama komunikasi kami tidak berjalan lancar. Sekarang bahkan kami tidak berkomunikasi. Aku… Dia… well… terlalu banyak hal yang tak terkatakan diantara kami dan hening ini udah ga nyaman lagi. Aku lelah, Gas! Lelah terus menerus ketakutan. Kenapa? kenapa aku begitu penuh dengan ketakutan? aku tidak menginginkan semua takut ini. Aku tidak ingin semua cemburu ini. Kenapa Gas? kenapa semua rasa ini ada pada diriku. What is wrong with me?” Emosiku tak lagi dapat kutahan.

Dan aku pun terisak. Akhirnya.

Aku menutup mukaku dan menelungkup di meja. Entah berapa lama. Ketakutan itu terurai berderai-derai. Semua rasa berlarian keluar, meninggalkan kekosongan, menyakitkan hatiku. Ya Tuhan…

Bagas menarik tanganku yang terkulai, dengan lembut dia menarikku ke pelukkannya.

“Kamu hanya sedang menjadi dirimu sendiri, Ra. And it’s okay. It’s okay to be you. It’s okay to feel all those feelings. Nothing is wrong.”

” I love him, Gas…” aku terisak dalam pelukkannya.

“I know… I know,Ra” Bagas berbisik.

(bersambung)