Arsip Kategori: Bagas & Ara

(;) Titik Koma (8)

Aku meletakkan pensilku dan mengambil telpon genggamku lagi, memijat sembarang tombol untuk menyalakan lampu layarnya. Nihil. Tidak ada apa-apa. Menghela nafas, aku singkirkan telpon genggamku. Mengambil pensil dan kembali mencoba menggambar. Aku tarik garis lengkung, tidak sempurna, hapus. Tarik garis, tidak sempurna, hapus. Demikian terus entah sampai berapa lama. Kertasku sudah kotor dan serpihan halus penghapus memenuhi mejaku.

Aku gelisah. Semua yang kulakukan tidak ada artinya, aku tidak bisa menghilangkan cemasku. Takutku.

Apa yang salah? *sigh. Aku menarik nafas dalam-dalam dan menyerah pada segala pikiran yang membuatku tidak nyaman ini.

kamu lagi apa, mas rangga? mengapa tidak juga memberi kabar?

Baiklah, aku tahu apa yang salah. Dalam kepalaku mendengung kembali suara Bagas

“Kamu koq sesempit itu seh pikirannya?”. 

“Kamu koq… sesempit itu… seh pikirannya?”

“ sesempit… itu… seh … pikirannya?”

Berulang kali, makin lama, makin lambat. Hatiku mendadak gelisah.

Baiklah mari mengurai ini semua, putusku dalam hati. Entah apa yang akan aku temui… aku sedikit ragu tapi aku tetap mengambil pensilku, membuka buku catatanku dan mulai menulis lambat-lambat.

Akhirnya suara itu datang juga. Kebenaran yang telah lama bersembunyi diam dan kuabaikan keadaannya. Telah lama kuketahui ada yang salah diantara kita. Apa yang tidak berani kubedah, apa yang tak mau kupertanyakan, apa yang tidak mau kuakhiri… pada akhirnya melontar dengan sendirinya. Tak terelakkan, tepat sasaran.

Dan bukankah telah lama kedua kutub itu mulur, menegosiasikan jarak yang menyatu dan merutin. Mungkin pada akhirnya tidak ada lagi yang bisa diulur. Mungkin sudah waktunya ketapel itu membuang jauh-jauh apa yang membuat kita berdua tegang. Kesana. Ke tempat yang sudah lama kita telusuri diam-diam. Ke lorong panjang dimana waktu hanya ada untuk aku dan kamu. Ke masa lalu yang tidak mau kita tinggalkan begitu saja. Dan biarlah ia bergulir hingga ia tiba di masa sekarang, saat ini, hari dimana aku meragukan diriku, meragukan kita dan menyalahkan kau yang tak kunjung datang meyakinkanku. Sedikit saja keberanian ini muncul, aku tahu, sudah tidak ada lagi kita. 

Di tanganku sekarang ini, aku dan kamu tidak menyatu. 

Buk! aku tutup seketika buku catatanku. Terkejut sendiri dengan apa yang baru saja aku tuliskan. Aku bereskan semua barang-barangku, sembarangan kumasukkan ke dalam tas. Yakin tak ada yang tertinggal, terburu-buru aku keluar dari perpustakaan. Lari sejauh-jauhnya dari kebenaran yang baru saja dinyatakan tangan kecilku. Lari dari apa yang belum berani aku hadapi.  Di luar hujan.

***

Mas Rangga adalah orang yang mengenalkan gunung padaku. Dia menarikku keluar dari dunia kota tempatku terbiasa tinggal.

Aku lahir di kota metropolitan bernama Jakarta, sudah dua puluh tahun lamanya tumbuh di belantara tembok dan gedung-gedung tinggi saat bertemu Mas Rangga. Mas Rangga lahir di desa kecil, di kaki gunung Merapi, dia tumbuh dimanja alam. Demikian kami sudah pasti berbeda. Tidak hanya sekedar berbeda kelamin, tetapi juga berbeda karakter. Perbedaan yang seperti kedua kutub magnet, namun ternyata menarik satu sama lain. Itulah kami.

Bagaimana kami bertemu? Takdir? Omong kosong. Bukan takdir yang mempertemukan kami. Tapi rokok.

Aku membenci asap rokok. Mas Rangga perokok. Aktif. Saat itu dia sedang duduk di kantin bersama temannya. Aku duduk di sebelahnya bersama teman karibku, Tya. Kantin sedang ramai-ramainya. Aku dan Tya terpaksa duduk di kursi itu karena memang sudah tidak ada tempat lagi. Di tengah diskusi serunya, Mas Rangga merokok. Aku tentu saja terganggu. Asap rokok menjajah udara segarku. Aku terbatuk-batuk. Sengaja.

“Tya… bagi minumnya yah” pintaku pada Tya.

Kode batuk-batukku menyadarkan Mas Rangga bahwa asap rokoknya menggangguku.

Dia menoleh dan berkata, “Maaf Mba” kemudian mematikan rokoknya yang tinggal setengah dan melanjutkan obrolannya kembali. Aku dan Tya pun asyik dengan pembicaraan kami sendiri. Tak lama aku dan Tya bersiap meninggalkan meja. Baru saja berdiri, Mas Rangga memegang tanganku dan menarikku duduk kembali. Aku terkejut dan langsung menoleh padanya.

“Bentar mba, saya mau kenalan.” katanya tanpa basa-basi.

Aku bengong dan hanya menatapnya. Orang gila. 

Tya yang langsung semangat menyambar “Namanya Lara, mas” Aku langsung melotot marah padanya. Tya malah senyum-senyum ga jelas.

“Lara ya. fakultas mana?”

“Desain grafis” Masih Tya yang menjawab.

“Lara. Desain Grafis. Saya Rangga.” Katanya lagi.

Aku masih diam dan hanya melepaskan tanganku darinya, yang rupanya masih dipegangnya. Tya malah sibuk berjabat tangan dengan teman-teman Mas Rangga yang  langsung mendadak ramah dan memanfaatkan momen.

“Tya, ayo pergi,  ga suka bau rokoknya neh” Kataku tegas  berdiri dan memanggil Tya. Lalu menarik tanganya, cepat meninggalkan kantin.

“Dagh semuanya” pamit Tya sambil cengengesan. Kami berjalan cepat dan sepuluh langkah kemudian aku dengar dia berteriak

“Lara, salam kenal yah!”

Norak banget sih, batinku. Senyum tipis menggaris berkhianat diwajahku.

“Cieee LARA!” Tya sumringah memelukku.

“iih… apaan sih!” Aku jengah dengan kejutan ini.

Sejak saat itu, Mas Rangga rajin makan siang di kantin itu, padahal dia tidak kuliah di Universitasku. Waktu itu dia memang hanya bertemu dengan teman karibnya semasa SMA yang kebetulan berkuliah di tempat yang sama denganku. Itu menurut pengakuannya.

Sejak saat itu, hidupku tidak pernah sama lagi. Hingga sekarang.

***

Mas Rangga dan awal pertemuan kami.

Bagas dan awal pertemuan kami.

Rasanya semua itu sudah lama sekali. Aku kembali dari nostalgiaku. Menarik nafas dan kembali ke masa ini. Menghadapi masa sekarang. Di depanku ada Bagas. Di luar ada hujan yang masih turun menemani. Dan disinilah aku tiba, di tanda titik yang kupikir  sudah menutup kisahku dan mas Rangga; sekaligus tanda koma yang mencukupkan kisahku dan Bagas.

Ketakutan. Kata itulah yang menutup kisahku dengan Mas Rangga dan yang sedang kucoba urai dengan Bagas. Dua minggu yang lalu Mas Rangga mengirimkan satu pesan singkat.

Aku butuh waktu sendiri.

Aku tidak membalasnya. Tidak tahu harus membalas apa. Dan enggan bertanya. Untuk apa?

“Dia hanya butuh waktu sendiri, bukan berarti kalian putus,” Bagas mengisi kekosongan setelah dia tahu pesan singkat apa yang dikirimkan Mas Rangga ; yang membuatku berpikir bahwa hubunganku dan Mas Rangga sudah berakhir.

“Well… sudah terlalu lama komunikasi kami tidak berjalan lancar. Sekarang bahkan kami tidak berkomunikasi. Aku… Dia… well… terlalu banyak hal yang tak terkatakan diantara kami dan hening ini udah ga nyaman lagi. Aku lelah, Gas! Lelah terus menerus ketakutan. Kenapa? kenapa aku begitu penuh dengan ketakutan? aku tidak menginginkan semua takut ini. Aku tidak ingin semua cemburu ini. Kenapa Gas? kenapa semua rasa ini ada pada diriku. What is wrong with me?” Emosiku tak lagi dapat kutahan.

Dan aku pun terisak. Akhirnya.

Aku menutup mukaku dan menelungkup di meja. Entah berapa lama. Ketakutan itu terurai berderai-derai. Semua rasa berlarian keluar, meninggalkan kekosongan, menyakitkan hatiku. Ya Tuhan…

Bagas menarik tanganku yang terkulai, dengan lembut dia menarikku ke pelukkannya.

“Kamu hanya sedang menjadi dirimu sendiri, Ra. And it’s okay. It’s okay to be you. It’s okay to feel all those feelings. Nothing is wrong.”

” I love him, Gas…” aku terisak dalam pelukkannya.

“I know… I know,Ra” Bagas berbisik.

(bersambung)

Fear (7)

Aku berbaring dalam gelap, menatap langit-langit kamarku dengan cahaya seadanya. Kadang, di saat seperti ini, aku berharap aku mempunyai kekuatan gaib untuk bisa melihat menembus langit-langit. Lebih hebat lagi jika aku mampu terbang ke ruang hampa penuh bintang. Ruang hampa gelap yang dipenuhi benda-benda berkilauan. Mungkin disana aku bisa menitipkan masa lalu ini. Mungkin disana masa lalu itu bisa berkilauan sama seperti cahaya bintang. Cahaya yang sudah usang tapi tidak basi apalagi menyakitkan.

Aku takut menutup mataku, sekelibat-sekelibat pertengkaran masa lalu yang random kulihat belum sanggup kuhadapi. Maka aku hanya diam seperti ini, seperti lumpuh. 

Doa? kapa, aku sudah lelah berdoa. Untuk apalagi berdoa, berbicara pada sesuatu yang tidak akan memberikanku jawaban apalagi penjelasan. Dia hanya diam dan aku lelah menghadapi diamnya. Diam itu memaksaku bicara, berteriak marah, dan aku tahu aku akan kesakitan sendiri melakukan semua itu. Maka kali ini aku hanya diam seperti ini, seperti lumpuh.

Mungkin diam ini hanya mencontoh apa yang dia lakukan. Mungkin jika aku diam, akhirnya dia tidak lagi diam.  Mungkin begitu saja kapa. Malam ini aku hanya akan diam.

***

Aku membaca tulisan yang kemarin malam aku tulis dan segera aku menutup diaryku. *sigh. Kelam kali duniaku dari kemarin. Aku menatap langit biru dari jendela perpustakaan. Tak ada hati untuk mengerjakan tugas akhirku. Ya, sebenarnya aku tak ada hati bahkan untuk hidup.

Hah! Lara… did you hear that?

Yeah… I need to laugh. Ketawa sampe keluar air mata.

“Neng Ara, main yuk!” dari belakang suara Bagas menembus lamunanku.

Aku menoleh dan menjawab “Malas ah!”

“makan?”

“malas juga”

“ck… terus yang ga malas ngapain?” dia langsung duduk di sebelahku

“tidur” jawabku sekenanya sambil merebahkan kepalaku di meja.

“yaudah yuk, tidur bareng” Bagas tersenyum menaikkan alis, kepalanya direbahkan juga di meja.

Plak! tanganku melayang menampar pundaknya.

“aduh, kamu koq tangannya ringan banget seh, Ra”

“lo tuh mulutnya ringan banget, bisa gak seh kalo komentar ga pake ngerayu” balasku.

“yeee…. biasa aja kale”

“ini biasa koq”

“iya juga seh biasa. eh, kamu masih aja yah bawa buku ini kemana-mana. Tapi koq gak pernah keliatan dibaca seh”  Bagas bangun dan mengambil buku Doa Sang Katak-ku.

Aku segera merebutnya dari tangan Bagas.

“ga usah buka-buka”

“kenapa?”

“nanti kataknya jadi pangeran”

Bagas mengernyit mendengar jawaban asalku. “lebay”

Aku menyimpan bukuku itu ke dalam tas. Buku itu sudah penuh dengan coretan dan gambar. Entah mengapa aku suka membaca kisah-kisah di buku itu. Menggelitik dan memaksa anganku bekerja. Bahkan kadang membantuku menemukan rasa yang aku puja.

“Jadi mau ngapain neh? tampangmu koq masih kusut aja seh Ra dari kemarin lho…”

“iya…”

“Ada apa? Mau cerita?”

“Gak ah”

“kenapa?”

“belum cerita ke mas rangga, masa cerita duluan ke lo”

“buset dah… penting yah begituan?”

“penting buat gw. Pacar itu harus tahu lebih dulu dari siapa pun. Lagian mana mungkin gw minta peluk-peluk sama lo”

“yah kalo emang kamu butuh dipeluk, sini Ra…” Bagas merentangkan tangannya.

Aku hanya menatapnya dengan mata melotot.

“udah ga usah sok-sok melotot, ga serem. Malah keliatan kaya nahan kentut” kata Bagas sambil ketawa. Aku hanya diam, mengambil kertas dan menggambar.

“Ra?”

“hmm…”

“Kamu koq sesempit itu seh pikirannya?” Pertanyaan Bagas menusuk kepalaku. Aku hanya diam dan terus menggambar.

“Bagas…”

“iya?”

“shut up”

“ya ga bisa lah ra”

“bisa ga seh kamu ga ikut campur urusanku” ketusku

“I wish I could. Tapi aku hanya ingin coba bantu ra. Mukamu itu lho…”

Aku mengambil kertas lagi di tasku dan mulai menggambar bulatan wajah, melubangi bagian matanya dan memakainya di wajahku.

“There. Aku ga pa pa, gas. ” jawabku sambil memegangi kertas di depan mukaku sambil cekikikan kecil.

Bagas merengut kertas yang kupegang dan meremasnya.

“Kamu ga mau cerita ga pa pa. tapi jangan pernah pura-pura baik di depanku, saat kita berdua sama-sama tahu kamu ada masalah. I don’t want fake ara.” Bagas membuang bola topeng  kertasku ke meja.

Aku terkejut juga dengan reaksinya.

“why do you care so much anyway Gas? can you just let me go, leave me alone”

Bagas menatap mataku dalam, mulutnya terbuka hendak bicara saat telpon genggamku bergetar-getar di meja. Aku segera mengangkatnya.

“ya mas? He-eh. Di perpus neh sama Bagas….. Iya, dah makan. Hah? Ngapain kesana? … oh. Sama siapa aja? … oh. oke. he-eh. dagh” Aku tercenung, lagi-lagi terganggu dengan bayangan mas Rangga pergi bersama teman wanita kantornya.

“Gas…”

“Yes, Ra?”

“Gue sayang Mas Rangga.”

“I know Ra. We both know”

” Gue cuma mikir… salah satu cara untuk membuat dia paham betapa dia seorang yang istimewa buat gue, adalah dengan cara menjadikannya orang yang pertama tahu tentang segala hal yang terjadi di dunia gue. Sedih gue, bahagia gue, segala hal yang berarti buat gue cuma bisa gue bagi ke dia. salah. koreksi. Gue bisa bagi ke banyak orang, tapi gue cuma mau bagi ke dia duluan.”

“kenapa cuma dia, ra?”

“karena gue percaya dia, Gas” Aku berbisik tidak yakin.

Kalau kamu percaya dia, kenapa kepalamu masih saja mempertontonkan bayangan dia bersama wanita lain, ra? kenapa masih saja cemburu itu ada?  

“Ra… kamu kan tidak perlu menutup duniamu hanya untuk satu orang. Bagaimana jika suatu hari nanti Mas rangga pergi? Kamu akan sangat kehilangan.”

Bola mataku membesar.

Kehilangan. Ya, tentu saja aku takut kehilangan Mas Rangga, Dia satu-satunya yang bisa kupegang erat di duniaku saat ini.

“Iya, Gas. Pun sekarang… meski gue barusan bilang kalo gue percaya sama dia, ntah kenapa kata-kata itu terasa kosong. Gue takut. Dari dulu gue takut. Gue selalu takut kehilangan orang yang gue sayang atau yang sayang gue. People leave, whatever the reason is. Dan entah bagaimana… seberapa pun besarnya gue percaya sama mas rangga, hantu bernama takut itu masih ada disini” Aku mengetuk-ngetukkan jari telunjukku ke pelipis menghilangkan bayang wajah ayahku yang tiba-tiba muncul. Entah kenapa.

“kamu selalu punya pilihan koq, Ra. masih ada banyak cara lain untuk membuat mas Rangga paham bahwa dia orang yang istimewa buat kamu. Kamu tidak perlu menutup duniamu rapat-rapat hanya untuk dia. ”

“Saat ini dia duniaku, Ngga. eh! Gas, maksudnya. ha5. koq bisa jadi Ngga seh. Sorry. Udah seh Gas, malas serius mulu. Santai aja. Gue oke koq”

“Oke? itu amoeba kenapa masih banyak digambar dan ngabis-ngabis-in kertasmu? Well, kalau kamu memang cuma bisa cerita ke mas rangga saat ini. Do it.”

“Dia di luar kota”

“Teleponlah, neng ara! ya ampun, emangnya kamu tinggal di jaman batu apa yah? Ini hp fungsinya untuk komunikasi jarak jauh. You need him, call. Pacaranmu dah berapa lama seh, kaya masih pedekate aja deh.”

Aku hanya melanjutkan gambarku. Karena aku takut dan aku belum berhasil menghadapinya. Takut apa, Ra?

(bersambung)

The Amoeba Pattern (6)

Jadi sudah hampir sebulan ini, aku semakin tenggelam dalam kesibukkanku menyelesaikan tugas akhirku. Tanpa Bagas.

Menghapus kehadirannya dalam hidupku,  hanya perlu menghindari perpustakaan. Ya, menghindari artinya sebisa mungkin tidak berada disana. Dan itu mudah. Mudah sekali.

Lihat kan, hidupku baik-baik saja tanpanya.

***

“Halo,  Mas Rangga…” jawabku sekedarnya saat telpon genggamku bergetar tak karuan, aku sedang berjalan keluar dari ruangan dosen pembimbingku. Tak sempat kulirik layar telpon genggamku.

“Ara?” seorang laki-laki yang suaranya tak asing memanggilku ragu, bukan mas Rangga.

“…” sh*t. Aku terpaku seketika.

“Ini papa” lanjut suara diseberang. D*mn, it is him.

“kenapa?” jawabku ketus.

“Papa lagi di Jakarta. Kita ketemuan ya?”

“Ara sibuk”

“Oh…”

“Sudah yah pa, Ara mau bimbingan dulu”

Klik! Aku tak menunggu jawaban dan langsung bergegas menuju perpustakaan. Persetan dengan dunia! Aku butuh sendiri.

***

Nafasku tersengal ketika tiba di meja yang biasa. Mejanya kosong. Syukurlah. Kuletakkan tasku dikursi sebelah kanan, buku dan telepon genggam di meja. Aku duduk, membuang nafas yang sedari tadi kutahan, mengambil handuk kecilku dan menghapus keringat di dahi. Aku kepanasan, tidak nyaman. Aku mengatur nafas dan menghitung mundur.

Sepuluh… mataku terpaku pada telepon genggamku, kurasakan mataku berkedip.

Sembilan… kejadian tadi berulang dalam benakku. Shit… Shit… shit.

Delapan… shit

Tujuh…Mataku panas dan hangat , tiba-tiba air mataku menetes. Aku menarik nafas panjang dan memejamkan mataku.

Enam… 

lima… tarik nafas, hembuskan… Ara… 

empattarik nafas, hembuskan…

tigatarik nafas, hembuskan…

duatarik nafas, hembuskan…

satutarik nafas…. hembuskan…

Tuhan

Aku duduk terdiam entah sampai berapa lama, berbagai macam pikiran berseliweran, di lubuk hati aku merasa… dan merasa. Berbagai hal mendadak muncul dalam diriku. Marah. Sedih. Dan entah campuran apalagi. Mataku masih terpejam, air mataku mengalir dan mengering dengan sendirinya. Sampai akhirnya aku membuka mata kembali, mengambil kertas kosong dan mulai menggambar amoeba. Aku penuhi setiap jengkal kekosongan dengan pola amoeba. Kurasakan tanganku bergerak, jariku membuat pola meliuk-liuk dengan cepat. Sebentar saja, kertas putih itu sudah penuh dengan amoeba. Aku ambil lagi kertas lain dan sama, kupenuhi kertas itu dengan gambar amoeba. Aku berkonsentrasi penuh dengan pola-pola ini, membiarkan apa yang tiba-tiba menguak kembali tenggelam. Menyalurkan semua energi perasaan negatif yang tak mampu kukontrol dan tak mampu kuberi nama.

Makin lama, makin banyak amoeba yang kugambar…

Makin lama, makin lambat tanganku bekerja…

Makin lama, makin sedikit pula pikiran  dan perasaan yang muncul…

“Ra!” Bagas memanggil dan menepuk pundakku. Suaranya kecil tapi di telingaku terdengar bagai teriakkan, aku tersentak kaget dan melonjak. Aku menoleh dan kudapati wajahnya yang tersenyum berubah seketika menjadi… ah, tidak, aku tak mengenal ekspresi mukanya itu, mungkin campuran terkejut dan bingung, entahlah. Selekas mungkin aku memalingkan muka.

kenapa kamu kesini gas? sekarang pula.

“Kamu kenapa?” tanyanya lembut. Aku menghiraukannya dan kembali menekuni  gambar pola amoebaku. Menunduk dan tenggelam dalam perasaan dan kegiatan rutin yang baru kutekuni beberapa saat ini. Rutin sesaat ini menenangkan. Rutin sesaat ini membuatku merasa aman. Rutin sesaat ini aku kenal dengan baik. Tidak seperti perasaanku. Tanganku kembali bergerak cepat memenuhi kertas kosong dengan gambar amoeba.

“Ra… ” panggil Bagas lagi. Aku hanya mengangguk pelan, tanpa menoleh. Tanganku mulai melambat menggambar pola amoeba dan kurasakan Bagas masih berdiri dan menatapku. Hei, ternyata tangannya masih memegang pundakku dan mengusap lembut. Akhirnya aku menengadah, aku tepis tangannya perlahan dan tersenyum memaksa.

“Apa gas?” bisikku pelan.

“Ga apa, Ra. Ini susu coklat…” katanya sambil mengulurkan sekotak susu kesukaanku.

Aku menatap tangannya yang terulur memegang sekotak susu berkeringat dan menengadah ke wajahnya lagi. Aku menangkap matanya. Bagas tersenyum dan mengangguk. Ada hangat yang tiba-tiba mengalir kecil di pipi dan hatiku. Aku spontan menunduk dan menutup wajahku dengan kedua tangan. Tersedu tanpa bersuara. Bagas berlutut dan merangkulku. Tidak erat hanya sopan. Tidak juga berkata apa-apa. Diulurkannya handukku. Aku mengambilnya dan menghapus tangisku dari wajah.

Aku dorong Bagas. “Ga apa, gas… ga apa… Kasih gw ruang.” kataku sambil duduk terdiam, menarik nafas pelan-pelan dan entahlah hanya terdiam. Merasa. Aku lihat pantulan samar wajahku di jendela hadapanku. Mata dan hidungku merah.

“aku duduk yah… ?” Tanyanya meminta ijinku. Aku menoleh sebentar dan mengangguk pelan.

Tidak terburu, dia mengangkat tasku yang tadi kuletakkan di kursi kosong sebelah kananku. Bagas duduk. Tidak mengambil buku, tidak berbuat apa-apa. Dia hanya duduk dan ikut menatap pemandangan di jendela.

Selang entah berapa lama, aku akhirnya bersuara.

“gw… ga mau cerita” kataku berpaling tiba-tiba padanya dan memecah hening diantara kami. Tidak ada yang bisa kuceritakan.

“Kamu dah makan?” balas Bagas tanpa kusangka.

Aku menggeleng.

“Makan yuk. Kamu ga lapar yah liatin burung lewat daritadi? Aku dah kaya lihatin ayam goreng terbang-terbang menggoda…”

Aku bengong, seketika membayangkan, absurd. “Dodol!” kataku seraya tersenyum.

“Makan dodol, ga kenyang. Ayam goreng aja yuk. Tuh ayam gorengnya lewat lagi…” Seru Bagas sambil menunjuk seekor burung yang melintas.

“Jadi pengen nimpuk gak seh?” lanjutnya sambil cengengesan kepadaku.

Aku memutar mata dan tiba-tiba saja perutku berbunyi. Aku lapar juga rupanya.

“nah tuh…. dah bunyi alarmnya. Yuk! berangkat!” Bagas tersenyum,  menyerahkan tasku dan berdiri.

Aku memasukkan kertas-kertas berpola amoebaku, buku, kotak pensil, telpon genggam ke dalam tas ranselku dan berjalan mengikutinya.

***

Bagas makan dengan lahap. Aku makan dengan diam. Sekali-kali tersenyum mendengarkan cerita Bagas tentang apapun. Kurasakan getaran di kursi, segera saja aku meraih tasku dan mencari telpon genggamku, mengangkat jari telunjuk meminta ijin pada Bagas.

“Halo, mas Rangga.” sudah kupastikan itu memang dia.

“Kamu dimana dek?”

“Lagi makan mas, sama temanku”

“Kamu kenapa? koq suaranya tidak bersemangat?”

“Hmm… ga apa.”

“Yang bener?’

“Nanti yah mas, kalau ketemu aku ceritakan.”

“Oke deh. O ya, tapi kayanya kita baru bisa ketemu selasa depan, dek. Aku ada training di Surabaya, berangkat besok.”

“Oh… koq baru cerita?”

“Iya, baru dikasih tahu kalau aku mesti berangkat tadi. Kamu bener ga apa? Suaramu beda…”

“Yaudah minggu depan saja kalau kita ketemu, aku cerita.”

“Dek…”

“Ya mas?”

“baik-baik yah… maaf aku belum bisa nemenin kamu”

“Iya…kamu dah makan?”

“Udah neh, sama teman-teman kantorku tadi”

“ooh…oke” Seketika gambaran Mas Rangga makan siang dengan gadis-gadis cantik nan dewasa menggangguku. Bukan waktunya cemburu buta, Ra. 

“yaudah yah dek, baik-baik. nanti aku telpon lagi. Kalau perlu cerita, kasih tau aja yah. Dagh”

“dagh” aku menutup pembicaraan dan kembali makan.

Bagas sudah selesai makan. Sedari tadi, dia sibuk memainkan telpon genggamnya. Hening kembali menemani kami. Aku menyelesaikan makan siangku yang terlambat ini dalam diam.

“Ra…” panggil Bagas.

“Hmm…”

“jangan terlalu banyak mikir. Dahimu bakal lebih cepat berkeriput kalau dikerut-kerutin terus kaya gitu. ”

“…” aku diam saja. Mengunyah pelan-pelan dan menelan.

“Bagas… Thanks yah”

“Buat apa?”

“Traktirannya…”

“Lah ra… kapan aku bil…”

“dan sudah ditemani” kataku memotong.

Bagas tersenyum, “Jadi… buat dapat predikat temanmu cukup dengan traktir ayam goreng doang yah? Tahu gitu dari kemaren-kemaren aja, kan kita jadi ga perlu drama-dramaan di perpus. hahaha….” Bagas tertawa.

Aku juga tertawa.

“Nah gitu dong, ketawa. senyum. Ga susah kan.” Bagas tersenyum padaku.

Tiba-tiba aku merasa jengah menangkap matanya. “aku… kita… maaf ” jawabku tiba-tiba gugup dan menunduk.

“Aduuh, udah Neng Ara. ga usah dipikirin. Kamu tuh terlalu banyak mikir tahu gak seh. Soal kita, soal kemungkinan jatuh cintaku, let’s just forget it. Aku suka kamu, ga berani bilang ini cinta. Kamu sudah punya mas Rangga. Aku sudah punya Nanda. Selesai. Kita temenan, tanpa beban perasaan. Kadang-kadang ada hal yang tidak perlu dijelaskan atau perlu kita ketahui sekarang juga. ”

“…” aku diam. Dia lebih muda tapi rasanya lebih dewasa dariku.

“dan ga usah pake nangis-nangis segala karena kangen sama aku”

“Gila, ge-er bener. aku nangis bukan gara-gara kamu.”

“Terus kenapa?”

“Ga mau cerita”

Bagas mengangkat bahu. “Ya sudah. So? Teman?”

Aku diam memandang tangannya yang terulur. Menarik nafas dan…

“Teman! Tanpa Mesra!” kujabat erat tangannya dan tersenyum.

“Tapi… maksudmu!” Bagas meralat dan mempererat jabatannya. Aku mendelik dan menendang tulang keringnya di bawah meja.

“Ouch…Iya… iya… Teman tanpa mesra. ga perlu pake nendang kali Neng!”

(bersambung)