Arsip Kategori: Fiksi / Nada / Citra

Review dari buku/lagu/film yang menginspirasi

Fear (7)

Aku berbaring dalam gelap, menatap langit-langit kamarku dengan cahaya seadanya. Kadang, di saat seperti ini, aku berharap aku mempunyai kekuatan gaib untuk bisa melihat menembus langit-langit. Lebih hebat lagi jika aku mampu terbang ke ruang hampa penuh bintang. Ruang hampa gelap yang dipenuhi benda-benda berkilauan. Mungkin disana aku bisa menitipkan masa lalu ini. Mungkin disana masa lalu itu bisa berkilauan sama seperti cahaya bintang. Cahaya yang sudah usang tapi tidak basi apalagi menyakitkan.

Aku takut menutup mataku, sekelibat-sekelibat pertengkaran masa lalu yang random kulihat belum sanggup kuhadapi. Maka aku hanya diam seperti ini, seperti lumpuh. 

Doa? kapa, aku sudah lelah berdoa. Untuk apalagi berdoa, berbicara pada sesuatu yang tidak akan memberikanku jawaban apalagi penjelasan. Dia hanya diam dan aku lelah menghadapi diamnya. Diam itu memaksaku bicara, berteriak marah, dan aku tahu aku akan kesakitan sendiri melakukan semua itu. Maka kali ini aku hanya diam seperti ini, seperti lumpuh.

Mungkin diam ini hanya mencontoh apa yang dia lakukan. Mungkin jika aku diam, akhirnya dia tidak lagi diam.  Mungkin begitu saja kapa. Malam ini aku hanya akan diam.

***

Aku membaca tulisan yang kemarin malam aku tulis dan segera aku menutup diaryku. *sigh. Kelam kali duniaku dari kemarin. Aku menatap langit biru dari jendela perpustakaan. Tak ada hati untuk mengerjakan tugas akhirku. Ya, sebenarnya aku tak ada hati bahkan untuk hidup.

Hah! Lara… did you hear that?

Yeah… I need to laugh. Ketawa sampe keluar air mata.

“Neng Ara, main yuk!” dari belakang suara Bagas menembus lamunanku.

Aku menoleh dan menjawab “Malas ah!”

“makan?”

“malas juga”

“ck… terus yang ga malas ngapain?” dia langsung duduk di sebelahku

“tidur” jawabku sekenanya sambil merebahkan kepalaku di meja.

“yaudah yuk, tidur bareng” Bagas tersenyum menaikkan alis, kepalanya direbahkan juga di meja.

Plak! tanganku melayang menampar pundaknya.

“aduh, kamu koq tangannya ringan banget seh, Ra”

“lo tuh mulutnya ringan banget, bisa gak seh kalo komentar ga pake ngerayu” balasku.

“yeee…. biasa aja kale”

“ini biasa koq”

“iya juga seh biasa. eh, kamu masih aja yah bawa buku ini kemana-mana. Tapi koq gak pernah keliatan dibaca seh”  Bagas bangun dan mengambil buku Doa Sang Katak-ku.

Aku segera merebutnya dari tangan Bagas.

“ga usah buka-buka”

“kenapa?”

“nanti kataknya jadi pangeran”

Bagas mengernyit mendengar jawaban asalku. “lebay”

Aku menyimpan bukuku itu ke dalam tas. Buku itu sudah penuh dengan coretan dan gambar. Entah mengapa aku suka membaca kisah-kisah di buku itu. Menggelitik dan memaksa anganku bekerja. Bahkan kadang membantuku menemukan rasa yang aku puja.

“Jadi mau ngapain neh? tampangmu koq masih kusut aja seh Ra dari kemarin lho…”

“iya…”

“Ada apa? Mau cerita?”

“Gak ah”

“kenapa?”

“belum cerita ke mas rangga, masa cerita duluan ke lo”

“buset dah… penting yah begituan?”

“penting buat gw. Pacar itu harus tahu lebih dulu dari siapa pun. Lagian mana mungkin gw minta peluk-peluk sama lo”

“yah kalo emang kamu butuh dipeluk, sini Ra…” Bagas merentangkan tangannya.

Aku hanya menatapnya dengan mata melotot.

“udah ga usah sok-sok melotot, ga serem. Malah keliatan kaya nahan kentut” kata Bagas sambil ketawa. Aku hanya diam, mengambil kertas dan menggambar.

“Ra?”

“hmm…”

“Kamu koq sesempit itu seh pikirannya?” Pertanyaan Bagas menusuk kepalaku. Aku hanya diam dan terus menggambar.

“Bagas…”

“iya?”

“shut up”

“ya ga bisa lah ra”

“bisa ga seh kamu ga ikut campur urusanku” ketusku

“I wish I could. Tapi aku hanya ingin coba bantu ra. Mukamu itu lho…”

Aku mengambil kertas lagi di tasku dan mulai menggambar bulatan wajah, melubangi bagian matanya dan memakainya di wajahku.

“There. Aku ga pa pa, gas. ” jawabku sambil memegangi kertas di depan mukaku sambil cekikikan kecil.

Bagas merengut kertas yang kupegang dan meremasnya.

“Kamu ga mau cerita ga pa pa. tapi jangan pernah pura-pura baik di depanku, saat kita berdua sama-sama tahu kamu ada masalah. I don’t want fake ara.” Bagas membuang bola topeng  kertasku ke meja.

Aku terkejut juga dengan reaksinya.

“why do you care so much anyway Gas? can you just let me go, leave me alone”

Bagas menatap mataku dalam, mulutnya terbuka hendak bicara saat telpon genggamku bergetar-getar di meja. Aku segera mengangkatnya.

“ya mas? He-eh. Di perpus neh sama Bagas….. Iya, dah makan. Hah? Ngapain kesana? … oh. Sama siapa aja? … oh. oke. he-eh. dagh” Aku tercenung, lagi-lagi terganggu dengan bayangan mas Rangga pergi bersama teman wanita kantornya.

“Gas…”

“Yes, Ra?”

“Gue sayang Mas Rangga.”

“I know Ra. We both know”

” Gue cuma mikir… salah satu cara untuk membuat dia paham betapa dia seorang yang istimewa buat gue, adalah dengan cara menjadikannya orang yang pertama tahu tentang segala hal yang terjadi di dunia gue. Sedih gue, bahagia gue, segala hal yang berarti buat gue cuma bisa gue bagi ke dia. salah. koreksi. Gue bisa bagi ke banyak orang, tapi gue cuma mau bagi ke dia duluan.”

“kenapa cuma dia, ra?”

“karena gue percaya dia, Gas” Aku berbisik tidak yakin.

Kalau kamu percaya dia, kenapa kepalamu masih saja mempertontonkan bayangan dia bersama wanita lain, ra? kenapa masih saja cemburu itu ada?  

“Ra… kamu kan tidak perlu menutup duniamu hanya untuk satu orang. Bagaimana jika suatu hari nanti Mas rangga pergi? Kamu akan sangat kehilangan.”

Bola mataku membesar.

Kehilangan. Ya, tentu saja aku takut kehilangan Mas Rangga, Dia satu-satunya yang bisa kupegang erat di duniaku saat ini.

“Iya, Gas. Pun sekarang… meski gue barusan bilang kalo gue percaya sama dia, ntah kenapa kata-kata itu terasa kosong. Gue takut. Dari dulu gue takut. Gue selalu takut kehilangan orang yang gue sayang atau yang sayang gue. People leave, whatever the reason is. Dan entah bagaimana… seberapa pun besarnya gue percaya sama mas rangga, hantu bernama takut itu masih ada disini” Aku mengetuk-ngetukkan jari telunjukku ke pelipis menghilangkan bayang wajah ayahku yang tiba-tiba muncul. Entah kenapa.

“kamu selalu punya pilihan koq, Ra. masih ada banyak cara lain untuk membuat mas Rangga paham bahwa dia orang yang istimewa buat kamu. Kamu tidak perlu menutup duniamu rapat-rapat hanya untuk dia. ”

“Saat ini dia duniaku, Ngga. eh! Gas, maksudnya. ha5. koq bisa jadi Ngga seh. Sorry. Udah seh Gas, malas serius mulu. Santai aja. Gue oke koq”

“Oke? itu amoeba kenapa masih banyak digambar dan ngabis-ngabis-in kertasmu? Well, kalau kamu memang cuma bisa cerita ke mas rangga saat ini. Do it.”

“Dia di luar kota”

“Teleponlah, neng ara! ya ampun, emangnya kamu tinggal di jaman batu apa yah? Ini hp fungsinya untuk komunikasi jarak jauh. You need him, call. Pacaranmu dah berapa lama seh, kaya masih pedekate aja deh.”

Aku hanya melanjutkan gambarku. Karena aku takut dan aku belum berhasil menghadapinya. Takut apa, Ra?

(bersambung)

The Amoeba Pattern (6)

Jadi sudah hampir sebulan ini, aku semakin tenggelam dalam kesibukkanku menyelesaikan tugas akhirku. Tanpa Bagas.

Menghapus kehadirannya dalam hidupku,  hanya perlu menghindari perpustakaan. Ya, menghindari artinya sebisa mungkin tidak berada disana. Dan itu mudah. Mudah sekali.

Lihat kan, hidupku baik-baik saja tanpanya.

***

“Halo,  Mas Rangga…” jawabku sekedarnya saat telpon genggamku bergetar tak karuan, aku sedang berjalan keluar dari ruangan dosen pembimbingku. Tak sempat kulirik layar telpon genggamku.

“Ara?” seorang laki-laki yang suaranya tak asing memanggilku ragu, bukan mas Rangga.

“…” sh*t. Aku terpaku seketika.

“Ini papa” lanjut suara diseberang. D*mn, it is him.

“kenapa?” jawabku ketus.

“Papa lagi di Jakarta. Kita ketemuan ya?”

“Ara sibuk”

“Oh…”

“Sudah yah pa, Ara mau bimbingan dulu”

Klik! Aku tak menunggu jawaban dan langsung bergegas menuju perpustakaan. Persetan dengan dunia! Aku butuh sendiri.

***

Nafasku tersengal ketika tiba di meja yang biasa. Mejanya kosong. Syukurlah. Kuletakkan tasku dikursi sebelah kanan, buku dan telepon genggam di meja. Aku duduk, membuang nafas yang sedari tadi kutahan, mengambil handuk kecilku dan menghapus keringat di dahi. Aku kepanasan, tidak nyaman. Aku mengatur nafas dan menghitung mundur.

Sepuluh… mataku terpaku pada telepon genggamku, kurasakan mataku berkedip.

Sembilan… kejadian tadi berulang dalam benakku. Shit… Shit… shit.

Delapan… shit

Tujuh…Mataku panas dan hangat , tiba-tiba air mataku menetes. Aku menarik nafas panjang dan memejamkan mataku.

Enam… 

lima… tarik nafas, hembuskan… Ara… 

empattarik nafas, hembuskan…

tigatarik nafas, hembuskan…

duatarik nafas, hembuskan…

satutarik nafas…. hembuskan…

Tuhan

Aku duduk terdiam entah sampai berapa lama, berbagai macam pikiran berseliweran, di lubuk hati aku merasa… dan merasa. Berbagai hal mendadak muncul dalam diriku. Marah. Sedih. Dan entah campuran apalagi. Mataku masih terpejam, air mataku mengalir dan mengering dengan sendirinya. Sampai akhirnya aku membuka mata kembali, mengambil kertas kosong dan mulai menggambar amoeba. Aku penuhi setiap jengkal kekosongan dengan pola amoeba. Kurasakan tanganku bergerak, jariku membuat pola meliuk-liuk dengan cepat. Sebentar saja, kertas putih itu sudah penuh dengan amoeba. Aku ambil lagi kertas lain dan sama, kupenuhi kertas itu dengan gambar amoeba. Aku berkonsentrasi penuh dengan pola-pola ini, membiarkan apa yang tiba-tiba menguak kembali tenggelam. Menyalurkan semua energi perasaan negatif yang tak mampu kukontrol dan tak mampu kuberi nama.

Makin lama, makin banyak amoeba yang kugambar…

Makin lama, makin lambat tanganku bekerja…

Makin lama, makin sedikit pula pikiran  dan perasaan yang muncul…

“Ra!” Bagas memanggil dan menepuk pundakku. Suaranya kecil tapi di telingaku terdengar bagai teriakkan, aku tersentak kaget dan melonjak. Aku menoleh dan kudapati wajahnya yang tersenyum berubah seketika menjadi… ah, tidak, aku tak mengenal ekspresi mukanya itu, mungkin campuran terkejut dan bingung, entahlah. Selekas mungkin aku memalingkan muka.

kenapa kamu kesini gas? sekarang pula.

“Kamu kenapa?” tanyanya lembut. Aku menghiraukannya dan kembali menekuni  gambar pola amoebaku. Menunduk dan tenggelam dalam perasaan dan kegiatan rutin yang baru kutekuni beberapa saat ini. Rutin sesaat ini menenangkan. Rutin sesaat ini membuatku merasa aman. Rutin sesaat ini aku kenal dengan baik. Tidak seperti perasaanku. Tanganku kembali bergerak cepat memenuhi kertas kosong dengan gambar amoeba.

“Ra… ” panggil Bagas lagi. Aku hanya mengangguk pelan, tanpa menoleh. Tanganku mulai melambat menggambar pola amoeba dan kurasakan Bagas masih berdiri dan menatapku. Hei, ternyata tangannya masih memegang pundakku dan mengusap lembut. Akhirnya aku menengadah, aku tepis tangannya perlahan dan tersenyum memaksa.

“Apa gas?” bisikku pelan.

“Ga apa, Ra. Ini susu coklat…” katanya sambil mengulurkan sekotak susu kesukaanku.

Aku menatap tangannya yang terulur memegang sekotak susu berkeringat dan menengadah ke wajahnya lagi. Aku menangkap matanya. Bagas tersenyum dan mengangguk. Ada hangat yang tiba-tiba mengalir kecil di pipi dan hatiku. Aku spontan menunduk dan menutup wajahku dengan kedua tangan. Tersedu tanpa bersuara. Bagas berlutut dan merangkulku. Tidak erat hanya sopan. Tidak juga berkata apa-apa. Diulurkannya handukku. Aku mengambilnya dan menghapus tangisku dari wajah.

Aku dorong Bagas. “Ga apa, gas… ga apa… Kasih gw ruang.” kataku sambil duduk terdiam, menarik nafas pelan-pelan dan entahlah hanya terdiam. Merasa. Aku lihat pantulan samar wajahku di jendela hadapanku. Mata dan hidungku merah.

“aku duduk yah… ?” Tanyanya meminta ijinku. Aku menoleh sebentar dan mengangguk pelan.

Tidak terburu, dia mengangkat tasku yang tadi kuletakkan di kursi kosong sebelah kananku. Bagas duduk. Tidak mengambil buku, tidak berbuat apa-apa. Dia hanya duduk dan ikut menatap pemandangan di jendela.

Selang entah berapa lama, aku akhirnya bersuara.

“gw… ga mau cerita” kataku berpaling tiba-tiba padanya dan memecah hening diantara kami. Tidak ada yang bisa kuceritakan.

“Kamu dah makan?” balas Bagas tanpa kusangka.

Aku menggeleng.

“Makan yuk. Kamu ga lapar yah liatin burung lewat daritadi? Aku dah kaya lihatin ayam goreng terbang-terbang menggoda…”

Aku bengong, seketika membayangkan, absurd. “Dodol!” kataku seraya tersenyum.

“Makan dodol, ga kenyang. Ayam goreng aja yuk. Tuh ayam gorengnya lewat lagi…” Seru Bagas sambil menunjuk seekor burung yang melintas.

“Jadi pengen nimpuk gak seh?” lanjutnya sambil cengengesan kepadaku.

Aku memutar mata dan tiba-tiba saja perutku berbunyi. Aku lapar juga rupanya.

“nah tuh…. dah bunyi alarmnya. Yuk! berangkat!” Bagas tersenyum,  menyerahkan tasku dan berdiri.

Aku memasukkan kertas-kertas berpola amoebaku, buku, kotak pensil, telpon genggam ke dalam tas ranselku dan berjalan mengikutinya.

***

Bagas makan dengan lahap. Aku makan dengan diam. Sekali-kali tersenyum mendengarkan cerita Bagas tentang apapun. Kurasakan getaran di kursi, segera saja aku meraih tasku dan mencari telpon genggamku, mengangkat jari telunjuk meminta ijin pada Bagas.

“Halo, mas Rangga.” sudah kupastikan itu memang dia.

“Kamu dimana dek?”

“Lagi makan mas, sama temanku”

“Kamu kenapa? koq suaranya tidak bersemangat?”

“Hmm… ga apa.”

“Yang bener?’

“Nanti yah mas, kalau ketemu aku ceritakan.”

“Oke deh. O ya, tapi kayanya kita baru bisa ketemu selasa depan, dek. Aku ada training di Surabaya, berangkat besok.”

“Oh… koq baru cerita?”

“Iya, baru dikasih tahu kalau aku mesti berangkat tadi. Kamu bener ga apa? Suaramu beda…”

“Yaudah minggu depan saja kalau kita ketemu, aku cerita.”

“Dek…”

“Ya mas?”

“baik-baik yah… maaf aku belum bisa nemenin kamu”

“Iya…kamu dah makan?”

“Udah neh, sama teman-teman kantorku tadi”

“ooh…oke” Seketika gambaran Mas Rangga makan siang dengan gadis-gadis cantik nan dewasa menggangguku. Bukan waktunya cemburu buta, Ra. 

“yaudah yah dek, baik-baik. nanti aku telpon lagi. Kalau perlu cerita, kasih tau aja yah. Dagh”

“dagh” aku menutup pembicaraan dan kembali makan.

Bagas sudah selesai makan. Sedari tadi, dia sibuk memainkan telpon genggamnya. Hening kembali menemani kami. Aku menyelesaikan makan siangku yang terlambat ini dalam diam.

“Ra…” panggil Bagas.

“Hmm…”

“jangan terlalu banyak mikir. Dahimu bakal lebih cepat berkeriput kalau dikerut-kerutin terus kaya gitu. ”

“…” aku diam saja. Mengunyah pelan-pelan dan menelan.

“Bagas… Thanks yah”

“Buat apa?”

“Traktirannya…”

“Lah ra… kapan aku bil…”

“dan sudah ditemani” kataku memotong.

Bagas tersenyum, “Jadi… buat dapat predikat temanmu cukup dengan traktir ayam goreng doang yah? Tahu gitu dari kemaren-kemaren aja, kan kita jadi ga perlu drama-dramaan di perpus. hahaha….” Bagas tertawa.

Aku juga tertawa.

“Nah gitu dong, ketawa. senyum. Ga susah kan.” Bagas tersenyum padaku.

Tiba-tiba aku merasa jengah menangkap matanya. “aku… kita… maaf ” jawabku tiba-tiba gugup dan menunduk.

“Aduuh, udah Neng Ara. ga usah dipikirin. Kamu tuh terlalu banyak mikir tahu gak seh. Soal kita, soal kemungkinan jatuh cintaku, let’s just forget it. Aku suka kamu, ga berani bilang ini cinta. Kamu sudah punya mas Rangga. Aku sudah punya Nanda. Selesai. Kita temenan, tanpa beban perasaan. Kadang-kadang ada hal yang tidak perlu dijelaskan atau perlu kita ketahui sekarang juga. ”

“…” aku diam. Dia lebih muda tapi rasanya lebih dewasa dariku.

“dan ga usah pake nangis-nangis segala karena kangen sama aku”

“Gila, ge-er bener. aku nangis bukan gara-gara kamu.”

“Terus kenapa?”

“Ga mau cerita”

Bagas mengangkat bahu. “Ya sudah. So? Teman?”

Aku diam memandang tangannya yang terulur. Menarik nafas dan…

“Teman! Tanpa Mesra!” kujabat erat tangannya dan tersenyum.

“Tapi… maksudmu!” Bagas meralat dan mempererat jabatannya. Aku mendelik dan menendang tulang keringnya di bawah meja.

“Ouch…Iya… iya… Teman tanpa mesra. ga perlu pake nendang kali Neng!”

(bersambung)

Wrong Chemistry (5)

Mungkin biarkan saja kegilaan ini menjadi milik kita.  Mari menarilah bersamaku , diantara hujan yang akan menyembunyikan air matamu. Sementara  isak mengalir di pipi dan sekujur tubuh kita,  pun kau masih sanggup menyunggingkan senyum dan aku akan terus menangkapmu yang hampir jatuh lunglai. Dan inilah tarian kita, antara fantasi – realitarasa – logika, raga – jiwa . Di antara semuanya itu adalah kita. Dalam derasnya hujan, merasuk tarian yang belum berani sempurna. Hanya diantara kita.

***

Bip… Bip…Bip….. Bip… Bip…Bip….. Bip… Bip…Bip…..

“hmm… uh” Tanganku terulur mencari alarm yang gelagapan membangunkan lelapku. Kutangkap benda berisik yang bergetar, meronta seakan berusaha melepaskan diri dari genggamanku.

Bip… Bip…Bip….. Bip… Bip…Bip….. Bip… Bip…Bip…..

Berisik.

Mati.

Hening seketika menjajah dengan matinya alarm di tanganku. Mataku masih berat menyambut pagi. Terjaga dalam gelap, menambah berat kelopak mataku. Aku diam sejenak, mengangkat benda di tanganku dan menyalakannya. Lima dua belas. Ah, masih ada waktu. Lambat-lambat aku bangun dan mengerjapkan mataku. Mencari kesadaran, bersiap menyambut pagi.

Dua puluh menit kemudian, aku telah berjalan menyusur gang depan rumahku. Langit masih biru gelap bahkan bulan masih belum beranjak, satu-dua bintang masih mengerling padaku. Aku selalu menyukai udara sepagi ini, saat bulan perlahan menjauh, menerbitkan matahari. Antara dinginnya malam dan hangatnya pagi. Antara gelapnya malam dan terangnya pagi. Dua titik berbeda yang bersatu tepat di tengah.  Perubahan. Proses. Melebur. Seimbang.

Aku sampai di depan gerbang, tepat saat lonceng gereja pagi berbunyi. Lonceng yang menandakan kedatangan malaikat, berdentang menyambut kicauan burung. Bergegas aku membuka pintu besar gereja. Sementara aku menyusur koridor, mencari tempat kosong,  umat berdiri mendaraskan doa angelus.   Aku mengambil tempat di tengah, dengan demikian altar dan salib besar itu dapat kupandang lekat. Syahdu. Misa pagi selalu membawaku pada suasana itu. Kudaraskan doa Salam Maria, bersatu dalam doa dengan umat lain.

Mengikuti misa pagi adalah kebiasaan baru yang belakangan menarik hatiku. Suasana pagi yang berbaur dengan lantunan doa menciptakan kedamaian. Suatu hari di bulan-bulan lalu, aku terjaga hingga pagi tanpa merasa lelah sedikitpun. Mataku tak mau terpejam dan pikiranku melayang kemana-mana. Aku tak berkarya, hanya termenung asyik menjelajah jalan-jalan pikiranku. Tak kusadari jam berdetak membawaku ke subuh. Entah darimana, keinginan untuk pergi menghadapNya pagi itu kuat, sangat kuat. Maka aku beranjak, menyerah memaksa ragaku terlelap. Tiba-tiba saja aku sudah hadir dalam misa pagi di gereja terdekat. Kusampaikan semua gelisahku padaNya. Rasanya seperti menangis tanpa setetes air matapun dibiarkan jatuh tanpa makna.  Dan  sejak saat itulah aku mencandu suasana mesra matahari dan bulan di rumahNya.

Aku sejujurnya tak menyangka ada cukup banyak umat yang menghadiri misa pagi harian. Orang tua kebanyakkan, namun tidak sedikit juga orang muda. Dan yang paling manis tentu saja pasangan suami-istri berambut putih yang selalu duduk di tengah dan tak jauh dari pilar sebelah kiri altar. Sebisa mungkin, aku selalu mengambil tempat tak jauh dari mereka. Pertama kali aku melihat mereka saling mengecup pipi saat “salam damai”, aku terharu akan salam yang saling mereka berikan dengan lembut dan hatiku menangkap damai begitu saja. Ciuman antar kekasih yang saling setia, they grow old together. Dan setiap kali melihat mereka pula aku berdoa memintaNya mengijinkan cinta semacam itu hadir dalam hidupku. Sederhana. Setia. Berdua. Di hadapNya. Sampai mati.

Mungkinkah Mas Rangga?

***

“Ara! disini… ” panggil Bagas sambil menunjuk-nunjuk kursi kosong di sebelahnya.

Aku tersenyum dan langsung saja duduk di kursi kosong di depanku. Menghiraukan panggilan Bagas. Membuka buku-bukuku dan mulai membaca.

“ra…” Aku terkejut. Tiba-tiba saja muka Bagas sudah berada di sampingku. Berbisik dekat. Deg. Aku menghindar cepat dan otomatis menampar mukanya.

Plak . “ouch!” Bagas memegangi pipinya.

“ah, sorry…” aku panik dan terkejut sendiri dengan reaksiku.

“Buset dah, apa salahku Ra?”

“Lagian ngapain deket-deket gitu. Aku kan kaget”

“Kamu nyuekkin aku”

“Iya, emang”

“Kenapa?”

“karena” jawabku singkat.

“Maaf?” tanyanya sambil mengulurkan tangan.

“Ga perlu” Aku memalingkan muka dan melanjutkan membaca.

“Kemarin aku telpon kamu, ga diangkat”

“Aku sudah tidur”

“Ra…” Bagas memanggil namaku. Namun aku hanya diam, tidak menghiraukannya.

“Ra, I got it. You have a boyfriend. Masih bisakah kita berteman?”

“Tiga bulan lagi, gas. Baiknya kita jaga jarak sampai semua rasa yang kau pikir cinta itu hilang”

“Kalau ga hilang?”

“Itu deritamu, bukan urusanku”

“Kamu segitu cintanya yah sama mas Rangga?”

“…” Aku terpekur dengan pertanyaan itu.

“Duniamu sesempit itu yah, sampai berteman dengan laki-laki lain saja tidak bisa. Atau jangan-jangan kamu juga ada rasa sama aku, makanya takut kalo kamu akhirnya selingkuh dari Mas Rangga. Ra, aku juga punya pacar kali. Ga usah ke-GR-an. Mo temenan aja koq susah. You know what, you need to get out from your world once in a while. Biar ga sempit tuh otak sama hati. ” Bagas melengos pergi dan meninggalkanku.

Tanpa berpikir, aku lempar pensil di tanganku sekuat tenaga ke arah Bagas yang sedang bergegas pergi. Aku tak menyangka reaksiku mendengar kata-katanya akan segitunya. Pedas sekali rasanya. Ini kejutan kedua.

Tahu apa dia tentang aku! Aku marah. Tapi Bagas tahu. Dan aku tahu, dia tahu. Pensil yang terlempar itu ibarat kebenaran yang kutolak mentah-mentah. Bagas tidak berhenti ketika pensilku mendarat kencang di lehernya, dia terus bergegas keluar. Aku tidak mengejarnya, hanya memandangnya dengan tatapan marah.

Gebleg apa yah dia? Mana bisa kita temenan, kalau ada kemungkinan segala yang aku anggap perhatian sahabat diterjemahkan sebagai “cinta juga”. 

Aku mengerutkan dahi tanpa sadar, sambil berusaha fokus untuk kembali membaca. Ah! Sialan! Aku menyerah, pikiranku tak bisa dibelokkan ke buku-buku ini. Aku tahu saat ini satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah menulis dan menelusur rasa dan pikiran mengganggu ini.

Perpus, 23.04.2010

Oke, Kapa. This is the only rational thing to do right? I need to avoid him. Bukan karena sekedar kemungkinan yang dia bilang jatuh cinta itu, ….. tapi…. O gosh, i hate to admit this! He is damn right! Aku takut dengan segala rasa yang dia timbulkan. But I love mas Rangga. And i don’t need this happy feelings, this butterfly effect, this stupid rushing heartbeat,  from other man. From Bagas. Shit! I hate him. And I hate how he makes me feel and think this way. What the hell is this? I’m a loyal girlfriend. Tapi rasa ga bisa bohong, ra. 

Rasa juga ga perlu ditanggapi kan, kapa? Can i just be friend with Bagas? aku dah terlanjur suka dengan apa yang kami punya, dan ini bahkan cuma tanda-tanda jatuh cinta. bukan cinta. 

Memang cinta itu apa, ra?

KUPRET!

***

Aku menutup buku catatanku, jengah dengan segala rasa dan pikir dalam diriku. Ah sudahlah… Ga semua rasa harus ditanggapi. Aku mengambil hapeku dan segera menelpon Mas Rangga. I need to hear his voice.

“Yes, ra?”  Mas Rangga menjawab dengan sedikit terengah dan berbisik.

“Mas, lagi sibuk?”

“Iya neh lumayan. Ada apa?”

“Ga pa pa. aku cuma mau denger suaramu?’

“eh? kangen yah?”

“iya…”

“kan baru ketemu kemarin malam, ra”

“terus kenapa? ga boleh kangen?”

“ha5. manja!”

“biarin”

“ya nanti makan siang aku telpon lagi yah ra. aku selesaikan kerjaanku dulu”

“iya mas. Semangat ya. dagh”

“dagh”

There you go. Rasa dari Bagas sudah seharusnya diisi oleh Mas Rangga. Apa yang Bagas timbulkan sudah lebih dulu ditimbulkan Mas Rangga. No new feelings, no need to worry. Aku dan Mas Rangga ga serapuh itu. Aku tersenyum dan mulai berkonsentrasi dengan tugasku.

(bersambung)