Kelana dan Rahasianya

Malam,
Secuil cerita ini hanya bisa kusuguhkan padamu.

Ini tentang dia.
Dia yang menyerahkan sepercik kebenaran.
Percik yang ingin kukecap hingga tuntas
sebelum berlalu dan meretas—

tak akan kubiarkan
ia tersisa
di sela pikiranku yang tak kunjung reda.

Dia menyajikannya
dalam sepiring manisan dan secangkir embun.
Kenyang pula aku dibuatnya.
Seperti candu.

Tak apa,
Dunianya berbeda rona dengan duniaku.
Aku sudah berusaha menakarnya
dan dia tetaplah kelakar
yang tersembunyi dalam rahasia…
sengaja menjelma doa.

Maka kubiarkan dia apa adanya,
dan kurelakan kata-kata ini terbakar di altar-Nya
berkelana menuju surga
hingga senyum kembali merekah
seakan tak pernah dihapus.


Setengah tulisan ini kutulis 15 tahun yang lalu, aku menyimpannya lalu lupa.

Iya, aku bahkan sudah lupa untuk siapa dan kenapa aku menuliskan ini… maka malam ini kuselesaikan saja. Aku masih mengenali rasanya… mungkin bukan sosoknya,  tapi pola yang kerap kutemukan dalam diriku.

Mungkin memang begitu cara rahasia bekerja: datang untuk mengisi, pergi untuk membentuk ruang baru.

Malam ini, aku membuka ruang itu. Sengaja, agar doa yang dulu tertahan, akhirnya bisa berjalan….Rasanya? Menyenangkan sekali, sudah lama aku tidak menulis seperti ini.
Akhirnya tanganku kembali menari dan pikiranku ke sana ke mari mencari kata di setiap sudutnya… ah! ruang ini terasa sama sekaligus beda…

Semoga tulisan ini menemukan pembacanya.

 

Tinggalkan Balasan