“Patah hati tuh kaya bikin tato, Nik. Semua pasti sakit. Tapi jadi borok atau karya seni ya tergantung yang jalanin”
Kubaca lagi sebaris kalimat chattingan kita bertahun-tahun yang lalu.
Aku tersenyum. Begini inilah kamu. Sebaris – lima baris kalimat bujuk nan bijak di kala aku menggila dalam galau. Kadang tidak makes sense. Seringnya malah. I don’t even know how it works anyway. At the end of the day, I always feel much better.
We’ve been chat and talk about jobs, broken hearts and fall in love for hours, days, months even years. Kami bahkan sampai pada tahap di titik: mana kala hatiku terasa retak atau bahkan patah berantakan, Galih adalah sosok yang muncul di kepalaku. Sosok yang aku tahu yakin akan menertawakanku tapi kemudian menemaniku menangis dan membantuku merekatkan diri lagi. He is that kind of friend and so do I to him (or so i thought).
Awalnya aku hanya spontan saja menuliskan judul tulisan ini. Entahlah mungkin karena itu salah satu hal yang berkesan di awal perkenalan kami. Kami sama-sama pamer tato. ha5. Eh aku dulu baru mau bikin sih, kamu yang duluan punya nampaknya. That’s how i remember you. A man with a lion tattoo on his shoulder. Tato yang katanya dibuat sesuai dengan lambang zodiaknya.
***
Sudah hampir 10 tahun rasanya kami berteman. Oh, And He is one of my favorite stories that I have in my life, that’s why I want to write about him.
So, what can I write about him? Hmm… let’s see… He is a fan of mine, obviously. 😝. Ya, mari kita mulai dari sana. Galih ini penggemar tulisanku. Aku ga pernah perlu maksa-maksa dia untuk baca tulisanku di blog ini. He comes here voluntarily and once even shared it on his Facebook. I think that’s the main reason he started to become my favorite. Ha5. Galih is something special.
*****
Draft tulisan ini dibuat beberapa tahun lalu, ketika saya dan Galih masih “berteman.” Saya terlalu malu dan takut untuk melanjutkan tulisan tersebut. Niat awalnya, tulisan ini ingin saya berikan pada hari ulang tahunnya. Walaupun pada saat itu saya belum tahu tanggal berapa dia berulang tahun, hanya tahu dia lahir di bulan Agustus. Iya, “pertemanan” kami memang seaneh itu, saya tidak tahu kapan persisnya Galih berulang tahun. Bertahun-tahun kami berteman, masing-masing hanya tahu bulan apa kami berulang tahun, tanggalnya siapa peduli? Baru pada saat pacaran, kami mulai merayakan hari lahir kami masing-masing.
Rasanya masih absurd nan membahagiakan, jika mengingat 16 hari yang lalu saya menikahi Galih, si penggemar blog ini. It’s a kind of weird-butterfly-feeling, to call him: suami saya. Ha5.
Sedikit cerita, ketika akan memilih tanggal pernikahan, kami jujurnya sama-sama tidak tahu bagaimana cara memilihnya.
“Kapan kita baiknya menikah?” tanya saya
Waktu itu Galih dengan yakin menjawab “Tahun 2024.”
Saya langsung bertanya lagi, “kamu yakin mau menikah di tahun Pemilu Indonesia?”
“Mengapa tidak? Tahun pemilihan presiden, sekalian saja aku milih istri ” Galih menjawab saya.
“Hmm… baiklah,” jawab saya dengan ragu. “Nda takut nanti ada kerusuhan?”
“Ya, ga lah. Aman. Aman” jawab Galih menenangkan keraguan saya.
“Bulan apa?” tanya saya lagi.
“Gimana kalau Agustus?”
Saya mengambil kalender dan melihat tanggal-tanggal akhir pekan yang ada di bulan Agustus 2024. Ketika melihat salah satu hari Sabtu bertanggal 10, saya langsung menjerit.
“Tanggal 10 Agustus 2024 saja ya! Tanggal lahirku, tanggal sepuluh. Bulan lahirmu, bulan Agustus. Dan 2024 akan menjadi tahun kita lahir sebagai pasangan suami istri.”
Sounds really good! Kami langsung sepakat dan menetapkan tanggal pernikahan, saat itu juga.
Ada banyak persiapan yang kami lakukan untuk akhirnya tiba di hari Sabtu, sepuluh Agustus dua ribu dua puluh empat. Selain persiapan teknis tentu yang tidak kalah penting adalah persiapan batin dan hati kami. Rasanya jika melihat balik relasi saya dengan Galih, saya masih sering merasa “amaze” dan senyum kecil selalu tiba-tiba merekah di wajah saya. Saya bahagia. Galih is something special. He was, he is, and he will always be.
O well… judulnya mungkin sudah tidak relate dengan isinya… tapi biarkanlah ya… saya ingin tetap ingat bahwa pernah ada waktu, saat saya menulis untuk “sahabat” saya. Saat itu saya ingin merayakan kelahiran sekaligus kehadiranya dalam hidup saya. Saya ingin menebus hari-hari ulang tahunnya yang saya abaikan selama menjadi temannya. So this is for you, Galih Kusumo, a man with a lion tattoo (and now me) on his shoulder. 😝
Panjang umur dan bahagia bersamaku, suami!


