Arsip Kategori: Bintang

Bagi mereka yang mengajarku menjadi terang

Tukiman (di)Peluk Laut

Tukiman kami adopsi dari The Keranjang Bali, sebuah toko oleh-oleh yang kami kunjungi saat bulan madu di Bali. Tukiman kami pilih sebagai pengingat momen pelepasan tukik—bayi penyu laut—yang diadakan di hotel tempat kami menginap. Momen itu cukup menyentuh saya dan suami. Bersama turis-turis bule, kami ikut menyemangati tukik-tukik yang bergerak cepat dengan sirip mungilnya, merayap di pasir menuju laut. Ombak datang, menggiring mereka memulai petualangan pertama di dunia bawah air. Bersama-sama kami mendoakan mereka sehat, bahagia, dan bisa bertahan hidup di lautan luas.

Manis kan? Tukik-tukik mungil itu seperti saya dan suami—yang juga baru memulai petualangan sebagai pasangan baru menikah. Dan ini yang akan bikin tambah manis lagi: ketika pacaran dulu, kami pernah mengunjungi Museum ArtScience di Singapore. Di sana saya mewarnai gambar penyu dengan warna hijau dan menghiasinya dengan tulisan Galih ❤️ Monica di punggung penyu tersebut. Di museum itu, gambar-gambar kami bisa discan dan dipindahkan ke layar laut besar. Senang sekali melihat gambar penyu kami berenang-renang.

So yeah… Saat melihatnya di toko, saya langsung ingin mengadopsinya. Namanya pun saya yang memberi: Tukiman, si tukik yang sudah dewasa. Bisa dibayangkan, ia cukup besar dan sangat nyaman untuk dipeluk.

Sejak hari itu, ia menjadi teman tidur saya. Terlebih ketika saya dan suami harus kembali terpisah samudra—antara riuhnya Jakarta dan tenangnya Perth. Dialah yang selalu saya peluk macam bocil, saat menangis tengah malam karena rindu tak bisa ditahan. Setahun berlalu, skill Tukiman semakin naik level: ia semakin lihai menenangkan badai emosi—terutama saat PMS datang tanpa aba-aba.

Begitulah, kedewasaan Tukiman memeluk inner child saya.
Dia menemani saya menyelam ke dalam dunia tanpa suara dan cahaya, memberikan rasa tenang. Tukiman menjadi penghubung yang meyakinkan kami—saya terutama—bahwa samudra yang terbentang bukanlah ruang kosong. Dia adalah pengingat bahwa sekecil-mungilnya sirip yang kami punya saat ini, pasti ada ombak yang membantu kami mengarungi lautan rindu. 🌊🐢✨

Bersama Tukiman, kami bertahan. Kami terus berenang dan memeluk lautan.
Sambil berharap suatu hari nanti, cita-cita kami di ArtScience Museum kembali terwujud —
kali ini bukan hanya di layar digital, tapi kami berdua yang benar-benar berenang bersama dalam satu kota, satu rumah, satu lautan…. sepanjang umur penyu laut—yang katanya bisa hidup sampai ratusan tahun itu.

Tsah!
Ayo tepuk tangan untuk kami para pejuang LDM!
Dan tolong doakan Tukiman tetap kuat jadi penjaga emosi saya ya

Tangan-tangan bisu

“Kamu terlalu jujur” katanya. “dan itu menyakitkan” lanjutnya lagi.

Aku terdiam.

Dia terdiam.

Lama.

“Jadi… ” Aku menggelengkan kepalaku, ke kiri lalu ke kanan, ragu.

“Lebih baik begitu…” dia menghela nafas.

Aku terdiam.

Dia beranjak.

***

“Kay!”

Malas-malasan aku membuka mataku, wajah Bara tepat diatas wajahku. Tersenyum lebar.

“Bangun!” katanya rusuh. “Lihat matahari sudah mau terbit. Ayo!” Segera dia membuka tenda kami. Udara dingin menyerbu masuk, aku segera menutup wajahku, merapat dan meringkuk semakin masuk dalam kantung tidur. Aku masih mengantuk dan lelah.

“KAY!” Bara berteriak lagi memanggilku.

“Kay, ayo keluar!”

“Dingiiin….” sahutku malas.

Bara melongok dari pintu tenda, memanggilku lagi.

“Kay! Ayo keluar!” katanya lagi sambil menarik ujung kantong tidurku, membuka riseltingnya dan menangkap kakiku dengan tangan dinginnya.

Aku terkejut, tangannya sedingin es melingkar mantap di pergelangan kakiku.

“BARA! DINGIN!” teriakku padanya.

“Makanya ayo keluar, matahari sudah mau terbit, nanti hangat” katanya santai, tangannya masih melingkar di pergelangan kakiku, menarik-narik tanpa henti.

“You are so annoying! ga bisa lihat, aku senang bermalas-malasan” seruku menggerutu padanya. Aku menghentakkan kakiku dari tanganya dan bersiap keluar tenda.

***

“Bara”

“ya, Kay?”

“ini kabut” kataku melotot padanya. Aku berdiri di tepian jurang dan menatap bentangan abu – abu bercampur kegelapan malam. Tak banyak yang bisa ditangkap kedua mataku. Sekelebat cahaya lampu kota  agak kabur terlihat di kejauhan, selebihnya abu-abu gelap.

“I know”

“gimana kita mau lihat matahari terbit kalau kabut segini tebalnya” gerutuku.

“wait and see, kay. Wait and see.”

“dingin bara…” Aku sudah memasukkan kedua tanganku ke dalam kantong jaket,  kakiku mulai gemetar dan aku berlari-lari kecil di tempat, untuk menghangatkan tubuh.

“Kita jadi muncak?” tanyaku ragu , aku sangat tergoda untuk kembali masuk dalam tenda dan bersembunyi di balik kantong tidurku.

“Jadi dong” Bara berjongkok dan merogoh-rogoh tasnya, mengeluarkan senter, menyerahkannya padaku. “ini buatmu, kamu sudah masukkan semua yang kamu butuhkan ke dalam tasku ini kan?”

Aku mengangguk pelan dan kembali menatap bentangan abu-abu. dingin

“Kay?”

“apa?”

“udah kan?”

“Udah bara! kan tadi aku udah ngangguk”

“mana keliatan, bocah!” katanya sambil berdiri dan menyentuh pipiku dengan jari-jarinya yang dingin. Segera aku tepis dan menjulurkan lidahku padanya. Sebal.

“Ayo” Bara menangkap tangan kananku dan kami pun beranjak pergi.

Kami melangkah tanpa tergesa-gesa. Langit Gunung Merbabu masih setengah gelap, setangah terang. Kabut melingkupi kami, mengaburkan jarak pandang mata. Aku berjalan dalam diam, tertunduk, memperhatikan setiap langkah yang kuambil. Aku sudah melepaskan tangan Bara. Kami berjalan beriringan. Dia di depan, aku di belakang. Sesekali aku menatap punggungnya yang membawa daypack kecil berisi bekal perjalanan kami ke puncak.

Merbabu. Sudah ketiga kalinya aku mendaki gunung ini. Baru kali ini dia menunjukkan sisi muramnya.

Ada apa denganmu hari ini merbabu? batinku. Aku berhenti melangkah dan menatap sekelilingku. Langit semakin terang, namun terang matahari seakan kalah berperang, kesulitan menembus pertahanan kabut merbabu. Sekelilingku masih berwarna abu-abu. Aku berputar perlahan, menatap lekat satu per satu, batang-batang pohon yang berwarna hitam, jalan berkerikil, itu saja. Suram dan misterius sekali. Di kejauhan bisa kudengar burung-burung berkicau. Dinginnya angin menusuk menembus jaketku, kakiku gemetar dan tanganku dingin. Angin,  tangannya memainkan rambutku dan bisiknya mengiringi kicauan burung, dekat sekali terdengar di telingaku. Aku menengadah menatap langit, hamparan kabut berwarna abu.

“Kay!” Bara memanggilku, aku berbalik, mendapatkannya sudah jauh di depan dan hanya terlihat dalam siluet bayangan samar.

“Kamu cape?” tanya Bara sambil melangkah menghampiriku.

“Bara… aku tersesat, seperti ini” jawabku lambat-lambat. Aku kembali melihat sekelilingku dengan bingung.

“kay?” matanya mulai terlihat khawatir.

Pelupuk mataku kurasakan berat dan berair. Bara menjadi semakin kabur kulihat. Hatiku mendadak diremas realita. Pemandangan ini, terlalu tepat kurasakan di dalam diriku. Merbabu seperti sedang memperlihatkan apa yang selama ini hanya bisa kurasakan.

“Kay!” Panggil Bara lagi, tanpa kusadari dia sudah ada di dekatku. Dia mengambil tangan kananku dan menariknya.

“Jalan, kay! Sekarang” Bara tegas menggiringku, melanjutkan perjalanan.

Beberapa langkah kemudian, aku kembali fokus kepada langkah-langkah kaki kami. Kami berjalan dalam diam. Bara tidak bertanya apa-apa. Aku tidak bercerita apa-apa. Tangan Bara hangat mencengkram kuat. Dituntunnya aku melewati tanjakan berbatu.

Masih jauhkah puncak? Aku mulai kehabisan napas. Kakiku mulai berat melangkah. Bara masih menuntunku. Tangan kami berkeringat.

***

Sambil melangkah, selintas kenangan memasuki benakku.

Kay, kamu sudah lama tidak menulis?Aku hanya mengangguk dan  diam saja ketika pertanyaan itu terlontar.  Iya, saya sudah lama tidak menulis dan romo bukan orang pertama yang menanyakan itu kepada saya. 

kenapa?Lanjutnya lagi. Aku masih diam saja, sekelibat kenangan muncul.

‘kamu terlalu jujur’. ‘berhentilah menulis untuknya’. 

“Ntahlah, romo.” Hanya itu yang bisa kuucapkan. Cepat. Tidak menjawab.

Aku tidak bisa lagi menulis. ada kebenaran yang tak diinginkan, ada kenyataan yang tak boleh diketahui. bahkan oleh diriku sendiri. Maka aku tak lagi menulis. Mungkin dengan demikian aku tidak lagi melukai atau terluka. 

“Saya ingin bisa menulis lagi, romo. Maukah Romo membantu saya?” Aku menatap putus asa. Romo tersenyum mengangguk pelan. Memberi jeda.

“Saya kehilangan, mo.” Lanjutku.

“Apa yang hilang?”

Lagi -lagi aku diam. “Ntahlah, romo” Lagi-lagi hanya itu yang bisa kuucapkan.

“Hilang arah, mungkin.” Jawabku ragu. “Saya merasa tersesat, sendirian dan tidak mampu lagi melangkah. Berputar-putar di tempat, tidak berani menjelajah. Rasanya sangat gelap. Tidak ada apa-apa. Hanya kabut.”

“mungkin juga saya kehilangan diri saya sendiri juga. Saya tidak punya mimpi. Lagi” lanjutku.

“Baiklah, saya temani kamu. kita coba temukan lagi mimpi-mimpimu. Apa yang hilang, akan ditemukan kembali jika kita berusaha mencarinya” jawab romo kala itu.

Aku terharu dan menangis. Hanya bisa mengangguk, membalas senyum romo.

***

“Sedikit lagi, Kay” kata-kata Bara mengembalikan lamunanku.

“Tuh sudah terlihat. satu tanjakan lagi” lanjutnya.

Aku mengangguk.

Tuhan, kuatkan aku. Aku masih ingin berjalan bersamaMu, puncak hanya tujuanku hari ini saja. Tapi tidak apa… setidaknya aku punya tujuan. Tidak diam. Tidak berhenti. Meski hanya untuk satu hari ini, tuntunlah aku pada tujuanku. Kuatkan aku. Hari ini berikanlah aku keberanian mempunyai tujuan, keberanian untuk setia menjalaninya sampai akhir dan kebahagiaan untuk bersyukur di setiap langkah yang aku ambil. Hari ini saja. Kuatkan aku.

***

Tiada dan berada.

“Itu namanya lari dari masalah, Git!” Bara memotong cerita Gita seketika.

“Apa salahnya? Aku tidak punya alasan lagi untuk tinggal disini. I deserve to be happy, Ra. Ini jalan terbaik, aku tidak bisa tinggal disini dan … ” Gita menarik nafas lelah, “untuk apa… ” air mata Gita mengembang di kedua matanya. Gita mendongakkan kepalanya, menahan air mata jatuh. Jangan nangis lagi, Gita. Be strong.

“Kamu tahu rasanya tinggal di rumah yang di setiap sudutnya penuh dengan kenanganku bersamanya? Kamu tahu rasanya terbangun jam 3 pagi mendapatkan dia tidak lagi ada disampingku? Kamu tahu rasanya memandang … ” tidak bisa, air mata ini tidak bisa kutahan lagi. Gita terisak, tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Terisak, matanya memejam dan disitulah ia menemukan Genta. Genta yang tersenyum, Genta yang kini hanya hadir saat kedua matanya terpejam. Genta yang tidak nyata.

Bara diam saja menampung tangis Gita.

“kamu yakin sudah memikirkan ini semua baik-baik?”

Gita menghapus tangisnya dan menarik nafas, sekali lagi menguatkan dirinya. “Ya, Bara. Aku sudah memikirkan semuanya.”

“Kenapa Git?” sekali lagi Bara berusaha mengerti jalan pikiran gadis yang dicintainya ini.

“Aku ga bisa, Ra. Genta…”

“Ada aku, Git” Bara memotong putus asa, dia tahu apa yang akan Gita katakan. Kamu tahu aku selalu ada disini untukmu.

Gita menangkap kedua mata Bara, ada kekhawatiran tergenang disana. Pria ini, aku akan merindukannya. Aku tidak bisa bermanja padamu terus Bara. Tidak adil. Gita menggelengkan kepalanya. “Ga bisa, Ra. Maaf…..” lanjutnya lirih.

“Kenapa, Git?” Bara mendesaknya. Gita tahu Bara tidak lagi mempertanyakan alasan kepindahannya ke Filipina. Bara mempertanyakan hatinya yang kini tertutup.

“Bara… seandainya aku punya jawaban yang akan memuaskanmu, aku akan memberikannya padamu. Aku tidak bisa melupakan Genta begitu saja. Dia … aku mencintainya.”

“Cinta? Jangan lemah, Git. Kamu tidak mau melupakannya, bukan karena tidak bisa, tapi karena egomu sendiri. Kamu sudah terlalu banyak menghabiskan waktumu menangisi cintamu itu. Keluarlah dari khayalanmu. Keluarlah dari masa lalu. Hadapi masa kini. Hadapi aku. Kalau kamu tidak bisa memiliki apa yang kamu cintai, belajarlah mencintai apa yang kamu miliki. Kamu pikir Genta akan bahagia melihat matamu bengkak menangisi kepergiannya? Kamu pikir Genta mengharapkan kamu berkabung seumur hidupmu? Kuatkan hatimu dan berhentilah berduka. Hidupmu tidak perlu mati sebelum waktunya dengan dalih cinta.”

Gita terdiam. Kata-kata Bara panas meradang di hati. Gita bangkit dari kursinya dan meninggalkan Bara.

“Gita… Tunggu…” Bara mengejar Gita dan menangkap lengannya.

“Lepas!”

“Nggak!”

“Bara, lepasin! Aku ga perlu duduk mendengarkanmu. Kamu ga ngerti!” Gita berteriak histeris.

“Kamu perlu mendengarkanku, Git! Kamu pikir aku ga ngerti rasanya merindukan orang yang paling kamu cintai? Kamu pikir aku ga ngerti rasanya kehilangan? Aku ngerti, Git. Setiap kali aku melihatmu menangis, aku kehilanganmu, Gita. Sadarlah. Genta sudah tiada. Berhentilah berduka.” dan cintai aku.

“Sadar, Ra? Kamu pikir selama ini aku ga sadar? Kamu pikir selama ini aku cuma mengkhayal? Aku ga bisa lagi tinggal disini karena aku terlalu sadar. Karena aku sadar kemanapun aku mencarinya, aku tidak akan lagi menemukannya. Aku sadar Genta sudah tiada. Justru karena itu aku tidak sanggup lagi tinggal disini. Justru karena aku selalu sadar dia tiada, aku tidak bisa bersamamu. Kamu bukan Genta.” Gita seketika menyesal telah mengucapkan kalimat terakhirnya. Bara melepaskan lengan Gita. Terdiam dan menatap Gita dengan pedih.

“Kamu benar, Git. Aku bukan Genta.” Bara berbalik, menerima jawaban Gita. Menerima fakta dan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang Bara yang tidak dicintai Gita. Genta. Gentalah yang Gita cintai. Genta yang sudah tiada namun masih saja berada di hati Gita.

“Bara… Maaf…” Gita berbisik pada punggung Bara sebelum akhirnya melangkah pergi, air mata mengalir pelan di kedua pipinya.

Mungkin aku sendiri harus keluar dari khayalanku bersamamu, Git. Mungkin aku sendiri harus berhenti mengatasnamakan cinta dan melepaskanmu… Bagaimanapun aku ingin kamu bahagia. Meski aku harus belajar bahwa bahagiamu ada, tanpa aku disisimu….

***

Sudah lama ga nulis. Tiba-tiba tangan ini ingin menari lagi. Kisah ini muncul begitu saja, tidak berencana akan menuliskannya, tidak berpikir akan mewujud dalam kata. Kisah ini mengalir begitu saja, mungkin karena selama ini kehilangan itu tersembunyi dan aku tak sanggup menelaahnya. Hingga hari ini, aku tidak bisa lagi menyembunyikan kehilanganku. Aku masih kehilanganmu. Aku masih belajar untuk menyadari bahwa hidupku masih berjalan meski tanpamu di sisiku lagi. Aku masih belajar… belum fasih apalagi ahli.

Ketahuilah… aku masih mendoakan kebahagiaanmu, kebahagiaanku. Kebahagiaan yang tidak bisa lagi menjadi kebahagiaan kita bersama. Tetap saja… ini sebuah harapan bukan penyesalan. :D. Teruslah melangkah dan berbahagialah.