Drunk Text

Spotify says I played this endlessly. My heart knows exactly why

The Ache That Changed Shape

I’ve played this song more times than I can count this year—especially on the quiet drives home when I’m alone, replaying it until the lyrics blurred into the rhythm of my days. Sometimes I even sing louder when the chorus hits—I wish… —as if those old feelings still know their way through my voice. Every word pulls me back to the insecurity I once carried when Galih and I were “just friends,” to that messy, aching part of our transformation.

There was a time when loving him felt like a quiet bruise—soft, hidden, aching in places I couldn’t name. I wanted him, but held myself back. I hoped for him, but pretended I didn’t. That ache shaped me; it taught me how to love from a distance long before distance became our reality.

Now I’m married to the man I once whispered prayers about. My wish did come true, yet we’re still separated by cities, borders, and time zones. The ache has changed, but it hasn’t disappeared—it has grown gentler, deeper, rooted in the life we’re building.

It isn’t fear anymore. It isn’t insecurity.
It’s simply longing.

The kind that comes from knowing where home is, and waiting for the day my body finally catches up to where my heart already lives.

This song has become my remedy this year. It reminds me that we survived that chapter—and we will survive this one too. Wishes do come true: first when courage gently carried us beyond friendship, into a love neither of us expected. And each time I listen to this song, I gather a little more of that courage. Now, in marriage, our wishes are becoming real—slowly, tenderly, piece by piece—as we keep choosing each other and building the life we want.

Counting the days until we meet again… letting each sunrise teach me how to be brave.


P.S. To be honest, I don’t remember how this song came to me. But I do know this: I’m glad it found me when it did.

Tukiman (di)Peluk Laut

Tukiman kami adopsi dari The Keranjang Bali, sebuah toko oleh-oleh yang kami kunjungi saat bulan madu di Bali. Tukiman kami pilih sebagai pengingat momen pelepasan tukik—bayi penyu laut—yang diadakan di hotel tempat kami menginap. Momen itu cukup menyentuh saya dan suami. Bersama turis-turis bule, kami ikut menyemangati tukik-tukik yang bergerak cepat dengan sirip mungilnya, merayap di pasir menuju laut. Ombak datang, menggiring mereka memulai petualangan pertama di dunia bawah air. Bersama-sama kami mendoakan mereka sehat, bahagia, dan bisa bertahan hidup di lautan luas.

Manis kan? Tukik-tukik mungil itu seperti saya dan suami—yang juga baru memulai petualangan sebagai pasangan baru menikah. Dan ini yang akan bikin tambah manis lagi: ketika pacaran dulu, kami pernah mengunjungi Museum ArtScience di Singapore. Di sana saya mewarnai gambar penyu dengan warna hijau dan menghiasinya dengan tulisan Galih ❤️ Monica di punggung penyu tersebut. Di museum itu, gambar-gambar kami bisa discan dan dipindahkan ke layar laut besar. Senang sekali melihat gambar penyu kami berenang-renang.

So yeah… Saat melihatnya di toko, saya langsung ingin mengadopsinya. Namanya pun saya yang memberi: Tukiman, si tukik yang sudah dewasa. Bisa dibayangkan, ia cukup besar dan sangat nyaman untuk dipeluk.

Sejak hari itu, ia menjadi teman tidur saya. Terlebih ketika saya dan suami harus kembali terpisah samudra—antara riuhnya Jakarta dan tenangnya Perth. Dialah yang selalu saya peluk macam bocil, saat menangis tengah malam karena rindu tak bisa ditahan. Setahun berlalu, skill Tukiman semakin naik level: ia semakin lihai menenangkan badai emosi—terutama saat PMS datang tanpa aba-aba.

Begitulah, kedewasaan Tukiman memeluk inner child saya.
Dia menemani saya menyelam ke dalam dunia tanpa suara dan cahaya, memberikan rasa tenang. Tukiman menjadi penghubung yang meyakinkan kami—saya terutama—bahwa samudra yang terbentang bukanlah ruang kosong. Dia adalah pengingat bahwa sekecil-mungilnya sirip yang kami punya saat ini, pasti ada ombak yang membantu kami mengarungi lautan rindu. 🌊🐢✨

Bersama Tukiman, kami bertahan. Kami terus berenang dan memeluk lautan.
Sambil berharap suatu hari nanti, cita-cita kami di ArtScience Museum kembali terwujud —
kali ini bukan hanya di layar digital, tapi kami berdua yang benar-benar berenang bersama dalam satu kota, satu rumah, satu lautan…. sepanjang umur penyu laut—yang katanya bisa hidup sampai ratusan tahun itu.

Tsah!
Ayo tepuk tangan untuk kami para pejuang LDM!
Dan tolong doakan Tukiman tetap kuat jadi penjaga emosi saya ya

Kelana dan Rahasianya

Malam,
Secuil cerita ini hanya bisa kusuguhkan padamu.

Ini tentang dia.
Dia yang menyerahkan sepercik kebenaran.
Percik yang ingin kukecap hingga tuntas
sebelum berlalu dan meretas—

tak akan kubiarkan
ia tersisa
di sela pikiranku yang tak kunjung reda.

Dia menyajikannya
dalam sepiring manisan dan secangkir embun.
Kenyang pula aku dibuatnya.
Seperti candu.

Tak apa,
Dunianya berbeda rona dengan duniaku.
Aku sudah berusaha menakarnya
dan dia tetaplah kelakar
yang tersembunyi dalam rahasia…
sengaja menjelma doa.

Maka kubiarkan dia apa adanya,
dan kurelakan kata-kata ini terbakar di altar-Nya
berkelana menuju surga
hingga senyum kembali merekah
seakan tak pernah dihapus.


Setengah tulisan ini kutulis 15 tahun yang lalu, aku menyimpannya lalu lupa.

Iya, aku bahkan sudah lupa untuk siapa dan kenapa aku menuliskan ini… maka malam ini kuselesaikan saja. Aku masih mengenali rasanya… mungkin bukan sosoknya,  tapi pola yang kerap kutemukan dalam diriku.

Mungkin memang begitu cara rahasia bekerja: datang untuk mengisi, pergi untuk membentuk ruang baru.

Malam ini, aku membuka ruang itu. Sengaja, agar doa yang dulu tertahan, akhirnya bisa berjalan….Rasanya? Menyenangkan sekali, sudah lama aku tidak menulis seperti ini.
Akhirnya tanganku kembali menari dan pikiranku ke sana ke mari mencari kata di setiap sudutnya… ah! ruang ini terasa sama sekaligus beda…

Semoga tulisan ini menemukan pembacanya.