Pssst…. Diam. Jangan bersuara. Sekata pun jangan. Ia sedang tertidur dan aku tidak ingin membangunkannya. Air matanya belum juga kering dan ia membutuhkan lelap ini lebih dari apapun. Maka, Pssst… Diam. Jangan berbunyi. Sedenting pun jangan.
Aku menuliskan ini semua padamu pun dalam hening yang tak kuasa ia jabarkan dalam kata-kata. Ketika nanti ia terbangun berpura-puralah bahwa kau tidak pernah membaca tulisan ini. Dia tidak perlu tahu apa yang jiwanya tuliskan kala lelap membungkus kesadarannya. Dia tidak perlu tahu bahwa ada secuil dirinya yang selalu terbangun merindukanmu. Biar saja aku tidak diakuinya, biar saja aku dibungkamnya terus dan menerus.
Tapi sebait saja aku ingin ada. Sekali saja aku ingin hidup. Karena aku adalah bukti terakhir bahwa dia pernah begitu mencintaimu. Aku adalah keping terakhir yang tertinggal saat dia membuang serpihan hatinya untukmu. Secuil dari dirinya yang masih memilikimu. Hanya saja, dia tidak tahu. Dan tidak perlu tahu.
Pssst… diam. Jangan berkesah. Dia memang tidak perlu tahu bahwa aku ada. Sebab tanpa ia tahu pun, aku sudah menjadi alasan butir-butir bening mengalir kosong di kedua pipinya. Sebab tanpa ia tahu pun, aku sudah menjadi penyebab kedua tangannya berhenti berbicara. Sebab tanpa ia tahu pun, aku sudah menjadi tali yang mengikatnya.
Dan…selama ini dia pikir, kamulah penyebabnya. Ya, kamu.
***
Mengapa aku tersenyum, tanyamu? Aku tersenyum karena aku berhasil mengelabuinya. Aku tersenyum karena aku berhasil tersembunyi di bayang-bayang gelap ketidaksadarannya. Aku tersenyum karena dia tidak tahu aku ada.
Sudah, aku percaya kamu tidak akan membocorkan rahasiaku. Sebab aku adalah bukti terakhir bahwa dia pernah begitu mencintaimu. Bukankah kamu tidak rela saat dia tega melenyapkanku? Ya, sayang, kamu tidak rela. Maka, diamlah. Aku pun akan diam-diam tinggal di sudut tergelap dirinya.
Seratus sempurna, kamu seratus satu lebih… lebih… sempurna.
“96…97…98…99…100… seratus… seratus” abang menghitung bintang
“abang, bintangnya yang ga kelihatan juga dihitung yah bang, itu tuh ada satu yang ga kelihatan…. dihitung bang, kasian kalo ga dihitung” jawab Leia
“seratus satu…. seratus satu” ulang abang berhitung.
***
Seratus sempurna, kamu satu lebih… lebih… sempurna.
#suratabanguntukleia
***
Buat yang sudah menonton Rectoverso, pasti tahu cuplikan dialog antara Abang dan Leia diatas. Adegan abang dan leia menghitung bintang adalah adegan favorit saya dan cerita “Malaikat Juga Tahu” adalah cerita favorit saya. Paling menyentuh dan paling mengurai air mata.
Saya suka adegan ini, simply karena saya suka bintang dan tidur di rumput sambil melihat bintang adalah konsolasi tersendiri. Saya tahu indahya berbaur dengan malam dan dimanja semesta alam (apalagi berbagi dengan orang yang paling istimewa di hidup kita). Dan entahlah, semenjak keluar dari bioskop, kepala saya membawa cuplikan adegan itu kemana-mana. Gambar Abang dan Leia menonton bintang bercokol kuat di kepala. Sampai akhirnya tangan-tangan saya tak kuasa lagi menahan diri. Maka lahirlah ilustrasi diatas. Dan bersamaan dengan itu lahir jugalah pengertian yang tanpa saya sadari telah bersembunyi dibalik adegan itu. Yang tertangkap mentah-mentah di hati dan membawa saya pada titik ini.
***
Abang adalah seorang autis yang jatuh cinta. Saya tidak tahu banyak soal autis, jadi silahkan koreksi saya, bila pengertian saya ini salah. Yang saya tahu, seorang autis mempunyai dunianya sendiri. Dunia yang mungkin tidak mampu dibagi/diceritakan / dikomunikasikan dengan baik sehingga tidak dipahami orang lain. Pun mampu dibagikan, orang lain hanya akan tahu bahwa mereka melihat dunia dengan cara pandang yang berbeda. Tidak seperti pada umumnya. Dunia Abang tidak terikat pada aturan yang baku berlaku umum, Abang punya aturannya sendiri. Abang tidak mengerti dunia yang dikenal banyak orang dan banyak orang tidak mengerti dunia Abang. Salah paham. Konflik.
Jadi tinggallah abang di dunianya sendiri.
Sampai Leia hadir dan masuk dalam dunianya. Leia dengan segala kebaikkannya, hanyalah seorang gadis yang kebetulan menyewa kamar di rumah bunda abang. Dia baik dan entah mengapa dia peduli pada Abang. Simpati? Yup, hal pertama yang terlintas dalam kepala saya tentu saja hal itu. Simpati pada situasi dan kondisi abang. Tapi bukankah simpati seharusnya bisa menjadi modal yang cukup untuk membenturkan dua dunia yang berbeda dalam satu ruang dan waktu tanpa konflik. Tanpa salah paham.
Akhirnya saya tahu, mengapa saya suka sekali adegan Abang dan Leia menghitung bintang. Karena bintang ke seratus satu adalah sebuah kompromi. Karena bintang ke seratus satu adalah irisan dua dunia. Dunia Abang dan dunia Leia yang berbeda tapi menyatu dalam satu ruang dan waktu. Mungkin itulah pertama kalinya Abang bisa menerima bahwa setelah seratus, ada seratus satu. Untuk pertama kalinya lah abang berani melangkah satu langkah keluar dari dunianya. Satu langkah lebih jauh dari yang mampu dia jalani selama ini. Satu keasingan yang dengan berani menawar nalar dan hatinya. Satu keasingan yang Abang sendiri tidak tahu dimana harus diletakkan dalam hidup yang baginya sudah sempurna.
Tapi….. satu itulah…. satu-satunya hal dalam dunianya yang melampaui kesempurnaan. Melampaui nalarnya. Melampaui hatinya. Melampaui musik-musik klasik yang disukainya. Melampaui dunianya sendiri. Melampaui dirinya.
Saya tahu… disini saya hanya bisa memberikan kata-kata muluk untuk mengisi keheningan yang memang seharusnya kosong. Tetapi disinilah saya dengan usaha saya yang sia-sia untuk menceritakan segelumit rasa itu. Rasa yang sudah menyentuh ranah-ranah halus dasar hati saya. Rasa tentang cinta yang tak terucap. Yang memang tak perlu diucap karena dia hadir bukan dalam kata-kata. Yang memang tersembunyi rapat-rapat di kedalaman. Cinta yang bebas dirasakan setiap hati di dunia apapun seseorang tinggal.
Mungkin bagi leia… satu bintang itu tidak kelihatan. Tapi bagi Abang… satu bintang itu adalah Leia. Bintang paling terang dan nyata di dunianya.
Maka bersama Abang, saya pun menangis. Mengurai cinta dalam kesedihannya saat satu irisan itu ternyata tidak cukup mampu meleburkan ego kedua dunia yang berbeda. Dan tepat disitulah dunia saya dan dunia abang beririsan. Saya juga rindu. Sama seperti abang, saya juga menginginkan satu. Satu orang yang ketika dunia berbeda kami beririsan, bersama kami dapat melampaui kesempurnaan. Satu yang untuknya saya rela berkompromi, supaya dia nyaman berada di dunia saya. Satu yang karena saya, dia rela berkompromi supaya saya nyaman berada di dunianya.
Saya hanya mau satu. Satu irisan yang menyempurnakan dua dunia yang berbeda.
Beberapa hari yang lalu, saya sedang menunggu pesanan makanan di salah satu counter fast food MKG saat kaki saya tiba-tiba terasa didorong. Saya menoleh ke bawah karena merasa terganggu. Rupanya ada gadis kecil setinggi lutut saya sedang gelisah berusaha menarik perhatian ibunya yang berdiri di sebelah saya. Dia mengangkat kedua tangannya dan mulai merengek. “pick me up!” katanya hampir menangis. Bocah ini terlalu kecil untuk menggapai dan melihat apa yang terjadi diatas counter, ibunya sedang apa? Rasa ingin tahunya menggelisahkan dan membuat dia penasaran. Dia bahkan berusaha naik dengan memanjat pinggiran counter, sadar bahwa ia tidak mampu menggapai, mulailah dia memanggil ibunya. Setelah ibunya menggendong dan dia sudah bisa melihat apa yang terjadi, dia merasa senang dan berhenti cemberut. :).
Saya tertawa kecil sambil ngatain “Dasar anak kecil!” dalam hati saya.
***
Dulu waktu saya masih belum setinggi ini, waktu saya masih anak kecil, saya ingat juga betapa inginnya saya cepat “gede”, cepat tinggi. Banyak hal menyenangkan yang tampaknya hanya bisa dilakukan setelah dewasa, setelah gede. Apalagi kalau pergi ke dufan, banyak banget permainan yang hanya bisa dimainkan dengan syarat tinggi minimal 100cm, kalau sudah tinggi. Sekarang saya sudah gede, sudah agak dewasa. Sudah tidak merasakan lagi kekesalan si gadis kecil yang harus digendong dulu untuk mencapai apa yang belum diketahui. Benarkah demikian?
Secara fisik mungkin iya, saya sudah berhenti bertumbuh. Tapi…. saya rasa saya masih manja dengan Bapak saya. Saya masih suka gelisah dan ga sabaran melihat apa yang ada diatas saya. Dan merengek padaNya untuk menggendong saya, agar saya bisa mencapai apa yang ingin saya ketahui. Mungkin inilah sisi anak kecil diri saya.
Pick me up, lord! I want to see as You see. I want to catch those stars!
Kadang-kadang saya merasa Dia mengangkat saya dan mengijinkan saya sejenak mengintip dan merasakan apa yang dilihatNya. Namun saat saya kembali menapak bumi, terkadang saya gelisah, terkadang merasa ingin cepat “sampai”, dll-mya. Saya merengek dan Tuhan mungkin sengaja tidak mengangkat saya. Bukan karena jahat, tetapi supaya saya tidak manja terus. Lama-lama saya tahu untuk mencapai apa yang bisa saya dapatkan setelah saya “tumbuh” yang harus saya lakukan adalah berhenti merengek dan… menikmati masa-masa pertumbuhan… (^^)o. Melakukan apa yang sekarang ini sanggup saya lakukan sambil memperbaiki dan bertumbuh setiap harinya. Sampai suatu hari nanti pada waktuNya, Dia tidak akan perlu menggendong saya lagi tetapi menggandeng tangan saya untuk menikmati pemandangan yang tadinya tak mampu saya lihat hanya memang karena belum waktunya.
Beautiful in His Time, indeed.
***
Ps: sejak posting ini, saya menambahkan kategori baru: “Fieelustrasi”. He5. Sudah lama saya ingin sekali mengembangkan kemampuan ilustrasi saya, tapi selama ini masih malu dan takut. well, practice makes perfect! jadi saya rasa dengan menampilkan di blog ini, bisa jadi satu hal yang makin memotivasi saya untuk “bertumbuh”. enjoy…. :).