Arsip Kategori: Korsel Mimpi

Dinamika mimpi-mimpi Fiee

One day I will do…

Sesekali aku mendengar detakNya. Sayup meski tak pasti. Jelas pun tidak apalagi mudah dinalar.

Bagaimana bisa kujelaskan padamu segala rasa ini? tahukah kau tentang semilir yang berhembus membelai hati? Desir yang hanya sesaat, membuat setiap ruang kosong seketika terisi penuh dan penjuru manapun kau cari, tak nampak jua sumbernya. Kau pun tertegun, kehilangan semua yang logis, kedapatan semua yang magis. Hanya sesaat itu, yang kemudian mencandui hidupku.

I’m so confused

‘Bout what I’m supposed to do
Life can throw many options to choose from
Should I go left
Or should I go down?
Will I find what I’m looking for
Right here?

I know I can do all that my heart wants to
Like running away
But I just can’t seem to

Time seems to go
So fast that I don’t know
What I’ve done with myself in a day like today
So many plans to make
Too many I will break
It’s easy to get down on myself
This way

I know I can do all that my heart wants to
Like ending this race
But I just can’t seem to

One day I know
One day I’ll be
Looking back on me
Looking back on me
Looking back on me

This I promise you
One day I will do
Everything so perfect and good
I swear, I swear

***

 

Titik nol

Sebelum kau hadir, aku terbiasa hidup sendirian. Ya. Terbiasa.

Jadi, mari kita duduk dan bicara. Temani aku menelusur kembali persimpangan yang mempertemukan jalan hidup kita. Iya, tentu saja bersamamu. Mengapa? Karena aku ingin tahu apa benar tidak ada pilihan lain selain menjalani semua ini bersamamu. Aku ingin tahu apa yang terjadi sampai kemudian aku tak lagi terbiasa hidup sendirian. Apalagi hidup tanpamu.

Darimana kita bisa mulai?

Mungkin dari sedegup yang tiba-tiba berdetak tidak pada waktunya itu. Degup yang kemudian mengacaukan seluruh ritme denyut aliran darah di sekujur tubuhku. Ya. Mari kita mulai dari situ.

Entah bagaimana aku tahu bahwa semenjak detak mendadak itu, hati dan pikirku akan menjadi sulit untuk sepakat. Tidak seharusnya degup itu hadir apalagi beresonansi. Ini gangguan. Dan otakku tidak menyukainya. Terlebih saat berbagai perintah sederhana mulai terabaikan indra.

Otakku seringkali mendapati mata ini tiba-tiba mengambil gambaran dirimu. Berhenti. Lalu tak lama, gambar itu terproyeksi secara random saat bagian lain berusaha untuk bekerja sesuai dengan perintah yang seharusnya. Begitu saja terahlikan. Begitu saja menguasai. Seenaknya.

Tentu saja pemberontakkan ini menggelisahkan. Diam-diam otakku bekerja menelusur segala yang terdeteksi salah ataupun tak biasa. Masalahnya segalanya terlihat baik-baik saja. Ini normal. Ini biasa. Ini hanya jatuh cinta.

Kamu, bukan manusia pertama yang pernah meledakkan degup yang tak pada waktunya itu. Bukan pula satu-satunya. Setidaknya waktu itu aku berpikir demikian.

Pada akhirnya aku akan terbiasa akan resonansi tak tentu, yang kerap hadir bersama rekaman gambarmu. Dan seperti biasanya cepat atau lambat degup itu akan berbaur seirama dan harmonis lagi. Dan tanpa kusadar, otakku akan kembali meraja. Mengendalikan. Mengetahui. Kemudian tak akan ada lagi perintah sembunyi-sembunyi melawannya. Semua terawasi. Semua kembali biasa.

Setidaknya waktu itu aku berpikir demikian.

Maka kunikmati saja. Degup mendebarkan itu, resonansinya yang memacu aliran darahku, dan riaknya yang kemudian membangkitkan percikan bahagia. Tak apa. Biarkan saja hadir. Biarkan saja meletup-letup. Lumat semua sensasinya. Rasakan. Ketahui. Kuasai. Lepaskan.

Setidaknya waktu itu aku berpikir demikian.

Mana kutahu bahwa aku akan begitu lambat sampai pada tahap melepaskan. Mana kutahu aku akan terbiasa bersamamu.

Sialnya, aku tak kenal gelagat rasa yang kau timbulkan ini. Aku tak paham sengat yang kau suntikkan ini. Aku tak menguasai jagat kecil yang kau berikan ini. Apakah maya? Apakah nyata? Mungkin tidak keduanya. Mungkin ini hanya tanya. Mungkin pada akhirnya tiada kata yang mampu membuatku puas akan makna yang tercipta dari aku dan kamu.

Ah ya. Akhirnya kita sampai di titik nol yang kucari. Ternyata aku selalu bisa kembali ke titik ini kapanpun kumau. Kapanpun aku bisa kembali terbiasa sendiri.

Tapi rasa ini belum juga selesai. Dan ya, aku masih ingin bertanya bersamamu. Mungkin aku masih mau belajar terbiasa bersamamu. Jadi mari kita mulai lagi perjalanan ini. Aku sudah tak lagi lelah. Sudah terlalu lama kita duduk dan bicara. Mungkin sembari melangkah, jawaban itu akan terkuak satu per satu.

I’ll never walk alone again.

“kamu mau ikut aku?” tanyamu seraya berpaling menatapku. Angin mempermainkan rambutmu dan debur ombak mengiringi pertanyaanmu.

kupicingkan mataku berusaha fokus pada sosokmu yang membelakangi matahari. Latar tebing, laut yang bergolak, dan hamparan pasir putih. Angin mempermainkan rambutku bagai gila. Kamu mempermainkan waktuku bagai gila. disini. di tempat angin, laut, dan horizon bersatu mendamaikan hatiku.

“kemana?”

“itu bukan jawaban” katamu lagi.

Masih kutatap matamu.

“memang bukan. aku hanya ingin tahu dulu kemana kau akan membawaku?”

“Aku tidak akan mengatakannya padamu”

“Oh, kalau begitu, aku tidak bisa memberikan jawaban padamu”

“apakah itu artinya tidak?”

“itu artinya aku butuh penjelasan”

“penjelasan tentang apa?”

“tentang kemana kau akan membawaku”

“apakah kemana itu penting?”

“penting. karena aku mungkin tidak suka tempat yang kau tuju”

“meski bersamaku?”

aku terdiam.

kamu terdiam.

lama.

Kita.hanya.saling.menatap.

“jadi maukah kau ikut aku?” Kau lontarkan lagi pertanyaan itu.

Bagaimana mungkin aku menjawab tanyamu. tanpa aku tahu tujuan dan jalan seperti apa yang akan aku lalui? tanpa aku mengerti apakah aku akan sanggup menuju kesana? tanpa aku paham apakah aku akan bahagia melaluinya? Bagaimana dengan ketakutan ini?

Aku tatap lagi sosokmu. Kau balas menatapku. Yakin. Tanpa susah apalagi salah. Dan seketika aku paham.

“Kau tahu aku mencintaimu” jawabku.

“Jadi?”

“… aku bahagia kemanapun kau membawaku”

Meski…tanpa aku tahu tujuan dan jalan seperti apa yang akan aku lalui? tanpa aku mengerti apakah aku akan sanggup menuju kesana?

Setidaknya aku bersamamu.

“Ya atau tidak?” tanganmu pun terulur menuntut jawaban.

“Aku membawa takutku dan segala percayaku padamu… kuletakkan disini” jawabku sambil menyambut telapak tanganmu yang terbuka. Jari kita seketika bertemu dan saling mengisi.

“Aku tahu. Kita tidak akan menyesal.” katamu seraya tersenyum balik.

dan kini langkahmu beriring seirama langkahku.

ternyata kemana itu memang tidak penting. Karena bersamamu, setiap langkah inilah yang penting.